SATU HARI DI BULAN SEPTEMBER
Oleh: Ona Kobo Pagi itu membuka diri dengan tenang, matahari muncul perlahan di balik jendela, seolah tahu, bahwa hari ini bukan hari yang biasa. Baju kebesaran dipersiapkan, toga hitam terlipat rapi, namun di dalam hati, ada getar yang lebih suci daripada sekadar perayaan duniawi. Langkah demi langkah kuayunkan, menuju ruang yang akan menjadi saksi, senyum sahabat, doa orang tua, semua bersatu dalam nada syukur. Di panggung akademi aku berdiri, menerima gelar yang lahir dari jerih payah, dari malam-malam panjang bersama buku, dan doa-doa lirih yang menembus langit. Namun di altar Gereja, lebih dalam lagi maknanya, Magisterium Gereja menyerahkan Missio Canonica, bukan sekadar penghargaan, tetapi perutusan untuk hidup. Aku menangis pelan, bukan karena lelah, tetapi karena kasih yang tak terhitung, membawaku sampai ke titik ini. September menjadi saksi, bahwa ilmu dan iman bertemu, bahwa pengetahuan tak berhenti di kepala, melainkan mengalir ke hati, dan dari hati menuju pela...