HUJAN DI AWAL SEPTEMBER


                Oleh: Ona Kobo

Hujan jatuh di awal September,
membasuh sunyi di antara langkah yang gemetar.
Ada seorang perempuan, matanya penuh cahaya,
keinginannya hampir ia rengkuh di ujung doa.

Namun rindu tak henti menyalakan api,
bayangan dia hadir di tiap detik yang sunyi.
Dalam keheningan malam yang membisu,
namanya kusematkan di sela doa yang pilu.

Dingin mencengangkan, menusuk perlahan,
tapi hatiku hangat oleh harapan.
Sebab aku tahu, di balik hujan yang deras,
ada perjumpaan yang kelak menjadi nyata dan tulus.

Aku berjalan di lorong waktu yang panjang,
membawa sabar sebagai pelita yang terang.
Setiap tetes hujan menuliskan namanya,
di jendela hati yang tak pernah tertutup oleh lupa.

Rindu menjelma menjadi bait-bait diam,
mengalun lembut dalam senandung malam.
Kepada Tuhan kuserahkan segalanya,
cinta yang tak terucap, doa yang setia.

Andai ia tahu, betapa aku mengaguminya,
tak dengan kata, tak dengan suara.
Hanya pandangan yang kusembunyikan,
dan doa yang diam-diam kuabadikan.

Awal September, hujan menemaniku,
menjadi saksi pada rahasia yang kupeluk selalu.
Di antara dingin yang menggigilkan dada,
ada keyakinan: ia akan tiba pada waktunya.

Kini aku percaya, doa tak pernah sia-sia,
rindu bukan hanya luka yang rahasia.
Di balik hujan, Tuhan sedang menyiapkan,
pertemuan indah yang akan merajut harapan.

Perempuan itu pun akhirnya tahu,
cintanya bukan sekadar bayang yang semu.
Hujan di awal September menjadi tanda,
bahwa mimpi dan doa kelak menjelma nyata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA DI UJUNG KAMPUNG BESKEM

PENGAGUM RAHASIA

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN