SENJA DI UJUNG KAMPUNG BESKEM
Oleh: Ona Kobo
Tidak banyak yang tahu, bahwa senja bisa seindah itu bukan di pantai, bukan di kafe berteras tinggi, dan bukan pula di titik-titik wisata yang ramai dicari di pencarian Google. Tapi di sebuah kampung kecil yang bernama Beskem (Nansean). Sebuah kampung yang seperti nyaris dilupakan peta, namun diam-diam menyimpan lukisan alam yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang punya mata hati.
Kampung Beskem(Nansean) bukanlah tempat yang penuh atraksi. Ia hanya dihuni oleh rumah-rumah sederhana dengan atap seng berkarat, jalan tanah yang merekah kalau hujan, dan pohon-pohon tua yang berdiri setia sejak entah kapan. Tapi setiap sore, saat matahari mulai pulang, kampung ini berubah menjadi panggung agung bagi pertunjukan semesta.
Langit mulai mewarnai dirinya dengan orange keemasan. Cahaya matahari jatuh pelan-pelan di genteng rumah, di wajah anak-anak yang masih bermain bola plastik, dan di embun sisa siang yang menempel di daun jambu. Bukit kecil di ujung kampung menjadi seperti panggung, tempat matahari seperti berhenti sejenak sebelum benar-benar tenggelam.
Tidak ada suara debur ombak, tidak ada gemuruh lalu lintas. Hanya suara jangkrik, suara ibu-ibu memanggil anaknya pulang, dan desir angin yang lewat di sela-sela kebun jagung.
Di kampung ini, senja tidak dikejar untuk difoto. Ia datang pelan-pelan, dan disambut dengan tenang. Seolah alam dan manusia sama-sama paham, bahwa keindahan tidak selalu harus ditunjukkan dengan keramaian. Kadang cukup dengan diam.
Orang-orang kota sering mencari senja di pantai, di tempat yang jauh dan mahal. Padahal, senja yang sejati bisa ditemukan di ujung kampung, di tempat sederhana seperti Beskem, yang menawarkan keindahan yang tidak hanya dilihat, tapi juga dirasakan.
Di sini, senja bukan sekadar warna. Ia adalah rasa.
Rasa tenang, rasa cukup, dan rasa pulang.
Komentar