Postingan

OASE DI UJUNG MANIK ROSARIO

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Di antara sunyi dan kepulan asap lilin yang menari, Engkau hadir sebagai hening yang paling murni. Bukan sekadar nama dalam deretan manik-manik rosario, Tapi pelukan yang utuh saat dunia terasa riuh. ​Wahai Sang Mawar Gaib yang tak pernah layu, Engkau adalah "Ya" yang mengubah sejarah waktu. Dalam rahimmu, Langit dan Bumi saling beradu, Melahirkan Terang di tengah malam yang membiru. ​Bunda bagi mereka yang kehilangan arah pulang, Engkau simpan segala duka dalam palung hati yang tenang. Tak perlu banyak kata untuk menyatakan cinta, Sebab jubah birumu cukup luas untuk mendekap semua air mata. ​Engkau adalah perempuan bersahaja dari Nazareth, Yang langkah kakinya setia meski jalanan terasa pedih. Dari palungan yang hina hingga puncak Golgota yang letih, Kesetiaanmu adalah api yang tak pernah habis tersisih. ​Di bawah kaki salib, Engkau berdiri dengan teguh, Mengajarkan kami cara mencintai tanpa perlu mengeluh. Saa...

ZIARAH dan RAHASIA PENANTIAN

Gambar
         Oleh: Ona Kobo Ada rahasia yang jatuh dari langit, tanpa suara, tanpa minta pamit. Ia tak pernah bertanya pada tanah yang gersang, Apakah yang tumbuh di sana adalah mawar atau ilalang. ​Namun sebelum jatuh, ia adalah penanti yang tabah, Lama ia mengacu di langit, memeluk mendung yang lelah. Ia belajar bahwa menjadi tulus butuh waktu untuk mengumpul, Menunggu saat di mana rindu dan takdir akhirnya menyimpul. ​Ia tak memilih jemari siapa yang ia basahi, Entah tangan yang penuh syukur, atau yang patah hati. Sebab baginya, jatuh adalah sebuah janji, memberi hidup tanpa perlu menghakimi. ​Maka di antara lelahmu melangkah, Saat ziarah hidup terasa berat dan payah, Belajarlah pada awan tentang cara menunggu Bahwa tak ada pemberian yang sia-sia jika tiba di saat yang tentu. ​Jangan simpan kasihmu hanya untuk yang suci, jangan tutup pintumu bagi yang pernah membenci. Jadilah hujan dalam pengembaraanmu yang singkat, yang tabah menanti, lalu memeluk bu...

Di Antara Langit yang Belum Selesai

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Masa depan itu seperti jalan berkabut, aku melangkah bukan karena tahu arah, tetapi karena percaya bahwa setiap lelah punya rumahnya sendiri. Kadang langkah ini goyah, seperti ranting yang digoyang angin ragu, namun aku tetap berdiri sebab di dalam jatuh pun aku belajar arti bangkit yang sesungguhnya. Hari-hari berjatuhan seperti daun, tak selalu hijau, tak selalu utuh, namun tetap kupungut satu per satu sebagai tanda bahwa aku pernah berjuang, bahwa aku tidak menyerah pada waktu yang sering kali terasa terlalu kejam. Ada malam-malam yang panjang, di mana pikiran menjadi lautan tanpa tepi, dan aku hanyut di dalamnya, mencari daratan yang bernama harapan. Namun di antara semua itu, aku menemukan diriku sendiri yang perlahan tumbuh dari luka, yang diam-diam menjadi kuat tanpa perlu tepuk tangan dunia. Dan tentangmu, kau seperti bintang yang tak pernah kumiliki, hadirmu jauh, namun cahayamu dekat, menemani g...

GOLGOTA: SUNYI YANG MENANGIS

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Langit merunduk pada siang yang kehilangan cahaya, awan-awan menghitam seperti duka yang tak sempat diucapkan. Angin berhenti di antara napas yang tertahan, dan bumi diam… terlalu diam untuk sebuah kematian. Di puncak sepi itu, Engkau terpaku pada kayu yang tak bernyawa, namun justru di sanalah cinta menemukan suaranya yang paling dalam. Darah-Mu menetes perlahan, seperti doa yang jatuh tanpa suara, membasuh tanah yang dulu Kau panggil “baik”, kini basah oleh luka Sang Pencipta. Teriakan, cemooh, dan tawa bercampur menjadi satu di kaki salib, namun Engkau tidak menjawab dengan murka, hanya dengan mata yang tetap memeluk dunia. “Bapa… ampunilah mereka…” kata-kata itu retak di antara napas terakhir, namun justru di situlah langit belajar tentang arti kasih yang tak bersyarat. Aku berdiri di kejauhan tak sanggup menatap terlalu lama, karena setiap luka-Mu seperti memanggil namaku d...

Simponi yang Retak di Dalam Diri

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Di kepalaku, malam tidak pernah benar-benar tiba ia hanya redup, lalu berubah menjadi gema yang berulang-ulang memanggil namaku dengan suara yang bukan milikku. Pikiran-pikiran itu datang seperti ombak yang lupa cara kembali, menghantam tanpa jeda, meninggalkan serpihan rasa yang tak sempat kusebut sebagai luka. Aku mencoba merapikan mereka menyusunnya seperti doa yang ingin ku pinta namun huruf-hurufnya berjatuhan sebelum sempat kupahami maknanya. Ada gaduh yang berwajah tenang, ada sunyi yang terasa berisik, dan aku terjebak di antaranya— seperti langit yang tak mampu memilih antara hujan atau petir. Sering kali aku ingin diam, tapi pikiranku justru bersuara lebih keras, mengulang hal-hal yang tak ingin kuingat, menciptakan takut dari bayangan yang bahkan belum sempat menjadi nyata. Aku lelah bukan karena dunia terlalu berat, tetapi karena diriku sendiri terlalu penuh untuk kutenangk...

PENGAGUM RAHASIA

Gambar
           Oleh: Ona Kobo Malam telah membentangkan sayap kelamnya Semilir angin, mencengkram tubuh Hari ini begitu cepat hingga malam pun menghampiri Padahal, aku masih mengagumi senja Ku berdiam bersama alam hayalan Bersandar pada tiang lamunan Menikmati keterasingan ini Harap, Sukma bukan sebatas hayalan belakang Sekejap, ku pejamkan netra teduh  Terbayang wajah yang sempat ku dambakan Walau sekedar pengagum rahasia hati Kini, ambisi hanyalah ambisi Dalam relung hatiku rindu kian merindu Senandung sendu ku lantunkan dalam hayalan Sebait puisi ku bacakan dalam angan Untuk sang pengagum rahasia asmara Dalam rintihan kerinduan, terbaring sebuah kesunyian berselimutkan resah Hatiku meronta, seakan hanya sebatas angan Jiwa seolah hampa, tanpa siluet senyum sang pengagum.

DALAM KEHENINGAN

Gambar
                              Oleh: Ona Kobo Cinta ini tidak bersuara, ia berlutut dalam sunyi, bertumbuh dari hati yang rela memberi tanpa menagih kembali. Ia lahir dari ketulusan yang menyerahkan diri pada kehendak Ilahi, mencintai bukan untuk memiliki, melainkan untuk menjaga seperti Tuhan menjaga kehidupan. Cinta yang hidup adalah doa yang tak terucap, setia dalam luka, tabah dalam penantian, dan tetap percaya bahwa kasih tidak pernah sia-sia. Ia membentuk jiwa tanpa memaksa, menumbuhkan tanpa melukai, menguatkan tanpa mengikat. Dan dalam cinta yang demikian, aku belajar,  ketulusan adalah ibadah, kesetiaan adalah iman, dan mencintai tanpa pamrih adalah cara paling manusiawi untuk menyerupai Tuhan. ✨