Postingan

ZIARAH dan RAHASIA PENANTIAN

Gambar
         Oleh: Ona Kobo Ada rahasia yang jatuh dari langit, tanpa suara, tanpa minta pamit. Ia tidak pernah bertanya pada tanah yang gersang, Apakah yang tumbuh di sana adalah mawar atau ilalang. ​Namun sebelum jatuh, ia adalah penanti yang tabah, Lama ia mengacu di langit, memeluk mendung yang lelah. Ia belajar bahwa menjadi tulus butuh waktu untuk mengumpul, Menunggu saat di mana rindu dan takdir akhirnya menyimpul. ​Ia tidak memilih jemari siapa yang ia basahi, Entah tangan yang penuh syukur, atau yang patah hati. Sebab baginya, jatuh adalah sebuah janji, memberi hidup tanpa perlu menghakimi. ​Maka di antara lelahmu melangkah, Saat ziarah hidup terasa berat dan payah, Belajarlah pada awan tentang cara menunggu Bahwa tak ada pemberian yang sia-sia jika tiba di saat yang tentu. ​Jangan simpan kasihmu hanya untuk yang suci, jangan tutup pintumu bagi yang pernah membenci. Jadilah hujan dalam pengembaraanmu yang singkat, yang tabah menanti, lalu memelu...

DI BALIK BATU YANG DIAM

Gambar
Oleh: Ona Kobo Orang-orang mengenalnya sebagai tebing yang tidak lekang oleh musim, sebab ia berdiri tanpa banyak mengeluh, seakan angin tidak pernah menemukan celah untuk menggugurkan keteguhannya. Padahal, di balik batu yang tampak kokoh, ada mata air yang diam-diam mencari jalan pulang. Ada getir yang di pendam agar dunia tidak belajar membaca betapa ringkihnya sebuah keberanian. Ia melangkah bukan karena tidak mengenal takut, melainkan karena tidak ingin ketakutannya menjadi beban bagi pundak-pundak yang telah letih. Namun ketika senja menutup halaman langit, ia sering bertanya kepada sunyi, "Masihkah esok menyimpan tempat bagi langkah yang mulai kehilangan yakin?" Ia kuat,  setidaknya begitulah dunia menamainya. Tetapi di ruang yang tidak dijangkau sorak, ia masih meragukan dirinya sendiri, Seperti pelita yang tetap menyala sambil cemas apakah fajar akan benar-benar datang menjemput. Kadangkala, kekuatan bukanlah tiadanya keretakan, melainkan kesan...

AMBANG AKHIR JUNI

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Pada akhirnya, Juni hanyalah sebuah halaman yang selesai dibaca waktu,  Sementara kehidupan tetap menjadi kitab yang tak pernah mencapai titik terakhir. Bulan ini tidak pergi.  Ia hanya mengganti wujudnya: dari kalender menjadi kenangan,  Dari angka menjadi makna,  Dari peristiwa menjadi diam yang menetap di kedalaman jiwa. Bukankah setiap musim adalah cara semesta mengajarkan bahwa menggenggam terlalu lama hanya akan membuat bunga kehilangan harum sebelum waktunya? Lihatlah senja. Ia tidak pernah meratap ketika cahaya meninggalkan langit. Ia tahu, gelap bukan lawan terang, melainkan ruang tempat bintang belajar menyebut dirinya sendiri. Demikian pula Juni. Ia menanggalkan hari-harinya seperti pohon tua yang melepaskan daun-daunnya bukan karena kematian, melainkan karena kehidupan selalu membutuhkan keberanian untuk kehilangan. Waktu tidak pernah tergesa. Kitalah yang sering ber...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

GORESAN PENA 26-06-2026

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Ada tanggal-tanggal yang lahir hanya untuk menjadi angka, lalu dilupakan bersama debu kalender. Namun ada pula yang datang seperti embun yang memilih daun paling sunyi, membawa rahasia yang tak sanggup diterjemahkan oleh waktu. 26-06-2026, barisan angka yang tersusun laksana jemari hujan yang mengetuk jendela musim, seolah langit sedang belajar menulis puisi dengan tinta berwarna senja. Tanggal ini bukan sekadar hitungan. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah hari tanpa perlu bersolek oleh kemewahan. Cantiknya bukan karena simetri angka, melainkan karena ia mengajarkan bahwa keindahan sering lahir dari hal-hal yang tampak sederhana. Aku membayangkannya sebagai sehelai daun yang tak pernah meminta angin, namun tetap menari ketika semesta mengembuskan harapan. Sebagai sungai yang tak pernah memamerkan muaranya, tetapi setia mengantar setiap riak menuju lautan yang lapang. Di balik angka dua ...

KANVAS PUTIH Vs TINTA HITAM

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Hidup kadang menyerupai  selembar kanvas putih,  yang terbentang diam di hadapan waktu sunyi, kosong,  namun justru di situlah segala kemungkinan lahir perlahan. Sedangkan hari-hari,  datang seperti tinta hitam yang jatuh setetes demi setetes  ke atas permukaan hidup;  membentuk garis, bayangan, juga luka yang tak selalu bisa dijelaskan. Aku pernah ingin melukis segalanya dengan sempurna,  membuat setiap sudut terlihat indah tanpa noda dan tanpa salah. Namun ternyata hidup  tidak pernah benar-benar diciptakan  untuk menjadi lukisan yang rapi. Ada tangan yang gemetar saat menggambar mimpi,  ada warna yang tiba-tiba memudar meski sudah dijaga sepenuh hati, dan ada hujan panjang  yang membuat tinta melebar ke mana-mana  hingga bentuknya sulit dikenali lagi. Kadang aku duduk terlalu lama  di depan kanvas hidupku sendiri, bingung ha...