Postingan

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN

Gambar
                          Oleh : Ona Kobo Desember berjalan perlahan, Seperti seseorang yang tak ingin cepat pergi, ia membawa sisa hujan dan sisa rindu, Serta doa-doa yang belum sempat kuucapkan dengan berani. Di setiap malam yang lebih panjang, Aku belajar diam di hadapan-Mu, Tuhan, Sebab ada rasa yang terlalu dalam Untuk diterjemahkan menjadi kata-kata biasa. Cinta tumbuh tanpa permisi, Hadir dalam bentuk sabar dan menunggu, ia tak selalu meminta dimengerti, Cukup dipercaya dan diserahkan sepenuhnya. Aku pernah menggenggam harap dengan gemetar, Takut jika ia runtuh oleh waktu, Namun Kau ajarkanku satu hal sederhana Apa yang dititipkan kepada-Mu tak akan sia-sia. Di antara nama yang kusebut dalam doa, Ada wajah yang kucintai dengan tenang, Bukan untuk kumiliki sepenuhnya, Melainkan untuk kujaga dalam restu-Mu. Desember mengajarkanku berdamai, Dengan luka, dengan rencana yang berubah, Dengan cinta yang tak sel...

BERSEMI, MERECUPLAH NOVEMBER

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Telah datang November, lembut seperti  doa di ujung senja, Menggugurkan sisa rindu dari Oktober yang penuh perjuangan. Embun jatuh perlahan di kening pagi, Seakan menulis ulang harapan yang sempat tertunda. Merecuplah November seperti bunga yang malu-malu tumbuh, Dari tanah yang pernah retak, Dari hati yang pernah lelah namun tak menyerah. Ada cahaya kecil di balik setiap luka, Dan kini ia tumbuh menjadi alasan untuk tersenyum lagi. Angin membawa kabar tentang permulaan baru, Tentang keberanian untuk mencinta, berdoa, dan percaya. Segalanya tampak sederhana  Namun penuh makna seperti tatapan pertama pada pagi yang damai. Oh November, Jadilah halaman baru yang wangi, Tempat segala niat baik tumbuh dan bersemi, Tempat kita belajar lagi  Bahwa setiap akhir selalu menyimpan janji akan keindahan yang baru. 

OKTOBER: ROSARIO DAN PERJUANGAN

Gambar
                 Oleh: Ona Kobo (Per Mariam Ad Jesum) Oktober datang perlahan, membawa wangi dupa dan bisikan doa Salam Maria, di setiap butir rosario yang kugenggam, kutitipkan harapan, luka, dan cinta yang belum sembuh. Di altar kecil di sudut kamarku, lilin menyala seperti bintang yang setia, mengiringi langkah iman yang tak selalu mudah, namun selalu kutempuh, walau tertatih oleh waktu. Bulan ini suci — bulan Bunda yang mengajar tentang kesabaran, tentang mencintai dengan hati yang berani patah, dan bangkit lagi dengan damai yang tak riuh. Oktober juga bulan perjuangan, ketika keringat bercampur air mata di ladang kehidupan, namun dalam setiap letih, ada tangan Tuhan yang menepuk lembut pundakku: "Jangan berhenti, Aku menyertaimu." Dan di akhir Oktober  ketika malam terasa lebih sunyi, aku menatap langit, melihat bulan separuh yang tampak pasrah, seperti diriku yang belajar berserah sepenuhnya. Oktober menutup dengan tena...

HUJAN DI BULAN OKTOBER

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Hujan di 10 Oktober, Mengetuk jendela dengan nada lirih, Seperti bisik rindu yang tak pernah usai, Menyapa hati yang masih menyimpan namamu. Di sudut malam, wanita itu duduk merenung, Memandangi butiran hujan yang jatuh perlahan, Seakan tiap tetesnya membawa wajahmu, Bayangan dirimu yang tak pernah pudar dari ingatan. Angin berhembus membawa kenangan, Menyelinap lembut ke dalam dada, Membangunkan rindu yang lama terdiam, Menyulut sunyi menjadi bara penantian. Oh, Oktober… Mengapa setiap hujan selalu tentang dirimu? Tentang tatapan yang dulu menenangkan, Tentang kehadiran yang kini hanya bayangan. Wanita itu terus merenung dalam gerimis malam, Menyebut namamu dalam diam, Mungkin hujan takkan membawamu pulang, Tapi rindu ini tetap akan menunggu dalam tenang.

SATU HARI DI BULAN SEPTEMBER

Gambar
Oleh: Ona Kobo Pagi itu membuka diri dengan tenang, matahari muncul perlahan di balik jendela, seolah tahu, bahwa hari ini bukan hari yang biasa. Baju kebesaran dipersiapkan, toga hitam terlipat rapi, namun di dalam hati, ada getar yang lebih suci daripada sekadar perayaan duniawi. Langkah demi langkah kuayunkan, menuju ruang yang akan menjadi saksi, senyum sahabat, doa orang tua, semua bersatu dalam nada syukur. Di panggung akademi aku berdiri, menerima gelar yang lahir dari jerih payah, dari malam-malam panjang bersama buku, dan doa-doa lirih yang menembus langit. Namun di altar Gereja, lebih dalam lagi maknanya, Magisterium Gereja menyerahkan Missio Canonica, bukan sekadar penghargaan, tetapi perutusan untuk hidup. Aku menangis pelan, bukan karena lelah, tetapi karena kasih yang tak terhitung, membawaku sampai ke titik ini. September menjadi saksi, bahwa ilmu dan iman bertemu, bahwa pengetahuan tak berhenti di kepala, melainkan mengalir ke hati, dan dari hati menuju pela...

HUJAN DI AWAL SEPTEMBER

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Hujan jatuh di awal September, membasuh sunyi di antara langkah yang gemetar. Ada seorang perempuan, matanya penuh cahaya, keinginannya hampir ia rengkuh di ujung doa. Namun rindu tak henti menyalakan api, bayangan dia hadir di tiap detik yang sunyi. Dalam keheningan malam yang membisu, namanya kusematkan di sela doa yang pilu. Dingin mencengangkan, menusuk perlahan, tapi hatiku hangat oleh harapan. Sebab aku tahu, di balik hujan yang deras, ada perjumpaan yang kelak menjadi nyata dan tulus. Aku berjalan di lorong waktu yang panjang, membawa sabar sebagai pelita yang terang. Setiap tetes hujan menuliskan namanya, di jendela hati yang tak pernah tertutup oleh lupa. Rindu menjelma menjadi bait-bait diam, mengalun lembut dalam senandung malam. Kepada Tuhan kuserahkan segalanya, cinta yang tak terucap, doa yang setia. Andai ia tahu, betapa aku mengaguminya, tak dengan kata, tak dengan suara. Hanya pandangan y...

PENGAGUM RAHASIA

Gambar
           Oleh: Ona Kobo Malam telah membentangkan sayap kelamnya Semilir angin, mencengkram tubuh Hari ini begitu cepat hingga malam pun menghampiri Padahal, aku masih mengagumi senja Ku berdiam bersama alam hayalan Bersandar pada tiang lamunan Menikmati keterasingan ini Harap, Sukma bukan sebatas hayalan belakang Sekejap, ku pejamkan netra teduh  Terbayang wajah yang sempat ku dambakan Walau sekedar pengagum rahasia hati Kini, ambisi hanyalah ambisi Dalam relung hatiku rindu kian merindu Senandung sendu ku lantunkan dalam hayalan Sebait puisi ku bacakan dalam angan Untuk sang pengagum rahasia asmara Dalam rintihan kerinduan, terbaring sebuah kesunyian berselimutkan resah Hatiku meronta, seakan hanya sebatas angan Jiwa seolah hampa, tanpa siluet senyum sang pengagum.