PENANTIAN DI UJUNG DOA
Oleh: Ona Kobo Di dalam sunyi yang panjang, aku menaruh namaku sendiri pada lembar yang belum selesai dituliskan waktu. Ada aksara yang belum sempat menjadi kalimat, ada cita yang masih berdiam di balik pintu takdir, dan ada harap yang kupelihara seperti nyala kecil di telapak tangan yang gemetar. Aku telah lama bersahabat dengan penantian. Ia datang tanpa mengetuk, duduk di sampingku, lalu mengajariku bagaimana menyimpan luka tanpa membencinya, menyimpan rindu tanpa menyebut namanya, dan menyimpan harapan tanpa memaksa hari esok lekas tiba. Kadang aku merasa hidup hanyalah sebuah kitab tua yang halamannya harus kubuka satu demi satu. Ada halaman yang membuatku tersenyum, ada halaman yang basah oleh air mata, dan ada halaman yang ingin kulewati namun selalu mengajarkanku sesuatu sebelum akhirnya kututup. Aku tidak lagi bertanya mengapa jalanku tidak serupa dengan jalan orang lain. Mungkin ...