Postingan

AMBANG AKHIR JUNI

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Pada akhirnya, Juni hanyalah sebuah halaman yang selesai dibaca waktu,  Sementara kehidupan tetap menjadi kitab yang tak pernah mencapai titik terakhir. Bulan ini tidak pergi.  Ia hanya mengganti wujudnya: dari kalender menjadi kenangan,  Dari angka menjadi makna,  Dari peristiwa menjadi diam yang menetap di kedalaman jiwa. Bukankah setiap musim adalah cara semesta mengajarkan bahwa menggenggam terlalu lama hanya akan membuat bunga kehilangan harum sebelum waktunya? Lihatlah senja. Ia tidak pernah meratap ketika cahaya meninggalkan langit. Ia tahu, gelap bukan lawan terang, melainkan ruang tempat bintang belajar menyebut dirinya sendiri. Demikian pula Juni. Ia menanggalkan hari-harinya seperti pohon tua yang melepaskan daun-daunnya bukan karena kematian, melainkan karena kehidupan selalu membutuhkan keberanian untuk kehilangan. Waktu tidak pernah tergesa. Kitalah yang sering ber...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

GORESAN PENA 26-06-2026

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Ada tanggal-tanggal yang lahir hanya untuk menjadi angka, lalu dilupakan bersama debu kalender. Namun ada pula yang datang seperti embun yang memilih daun paling sunyi, membawa rahasia yang tak sanggup diterjemahkan oleh waktu. 26-06-2026, barisan angka yang tersusun laksana jemari hujan yang mengetuk jendela musim, seolah langit sedang belajar menulis puisi dengan tinta berwarna senja. Tanggal ini bukan sekadar hitungan. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah hari tanpa perlu bersolek oleh kemewahan. Cantiknya bukan karena simetri angka, melainkan karena ia mengajarkan bahwa keindahan sering lahir dari hal-hal yang tampak sederhana. Aku membayangkannya sebagai sehelai daun yang tak pernah meminta angin, namun tetap menari ketika semesta mengembuskan harapan. Sebagai sungai yang tak pernah memamerkan muaranya, tetapi setia mengantar setiap riak menuju lautan yang lapang. Di balik angka dua ...

KANVAS PUTIH Vs TINTA HITAM

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Hidup kadang menyerupai  selembar kanvas putih,  yang terbentang diam di hadapan waktu sunyi, kosong,  namun justru di situlah segala kemungkinan lahir perlahan. Sedangkan hari-hari,  datang seperti tinta hitam yang jatuh setetes demi setetes  ke atas permukaan hidup;  membentuk garis, bayangan, juga luka yang tak selalu bisa dijelaskan. Aku pernah ingin melukis segalanya dengan sempurna,  membuat setiap sudut terlihat indah tanpa noda dan tanpa salah. Namun ternyata hidup  tidak pernah benar-benar diciptakan  untuk menjadi lukisan yang rapi. Ada tangan yang gemetar saat menggambar mimpi,  ada warna yang tiba-tiba memudar meski sudah dijaga sepenuh hati, dan ada hujan panjang  yang membuat tinta melebar ke mana-mana  hingga bentuknya sulit dikenali lagi. Kadang aku duduk terlalu lama  di depan kanvas hidupku sendiri, bingung ha...

SUATU HARI DI BULAN JUNI

Gambar
               Oleh: Ona Kobo Suatu hari di bulan Juni, langit datang seperti selembar surat tua yang terselip di antara halaman-halaman waktu. Angin membacanya perlahan, sementara dedaunan menjadi aksara yang menari di atas tanah yang diam. Pada hari itu, matahari tidak sekadar terbit dari timur, ia seperti pelita emas yang digantungkan Tuhan di beranda pagi, mengajarkan cahaya untuk tetap setia meski malam berkali-kali datang menghapus jejaknya. Aku melihat kehidupan seperti kanvas putih yang terbentang panjang, dan setiap peristiwa adalah tinta hitam yang tidak selalu indah saat ditorehkan, namun kelak membentuk gambar yang tak pernah mampu ditebak oleh pemiliknya. Suatu hari di bulan Juni, hujan turun seperti kenangan yang lama berdiam di sudut hati. Ia tidak mengetuk pintu, tetapi hadir diam-diam membasahi taman-taman yang hampir lupa cara berbunga. Waktu berjalan seperti sungai tua, membawa ranting-ranting harapan, daun-daun kega...

OASE DI UJUNG MANIK ROSARIO

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Di antara sunyi dan kepulan asap lilin yang menari, Engkau hadir sebagai hening yang paling murni. Bukan sekadar nama dalam deretan manik-manik rosario, Tapi pelukan yang utuh saat dunia terasa riuh. ​Wahai Sang Mawar Gaib yang tak pernah layu, Engkau adalah "Ya" yang mengubah sejarah waktu. Dalam rahimmu, Langit dan Bumi saling beradu, Melahirkan Terang di tengah malam yang membiru. ​Bunda bagi mereka yang kehilangan arah pulang, Engkau simpan segala duka dalam palung hati yang tenang. Tak perlu banyak kata untuk menyatakan cinta, Sebab jubah birumu cukup luas untuk mendekap semua air mata. ​Engkau adalah perempuan bersahaja dari Nazareth, Yang langkah kakinya setia meski jalanan terasa pedih. Dari palungan yang hina hingga puncak Golgota yang letih, Kesetiaanmu adalah api yang tak pernah habis tersisih. ​Di bawah kaki salib, Engkau berdiri dengan teguh, Mengajarkan kami cara mencintai tanpa perlu mengeluh. Saa...