Postingan

SEJARAH SUKU AMASANAN

Oleh: Ona Kobo Di sebuah wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di tanah yang dipeluk angin dan dijaga bukit-bukit sunyi, hiduplah sebuah suku tua bernama Amasanan. Suku ini berdiam di Desa Nansean, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, tanah yang bukan hanya menyimpan jejak kaki manusia, tetapi juga jejak kisah para leluhur. Konon, pada zaman ketika matahari terasa lebih dekat dengan bumi dan manusia masih akrab dengan alam, datanglah seorang pemuda gagah perkasa dari Niku Sae Loro Sae (tanah terbitnya matahari). Namanya Bagista. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap, dan sorot matanya menyimpan keberanian sekaligus kebijaksanaan. Bagista berjalan menyusuri banyak daerah hingga akhirnya tiba di Ainan. Kedatangannya disambut dengan hangat oleh suku Banusu. Dari kejauhan, sosok Bagista tampak seperti Koko On Bate atau seorang raja yang turun dari langit pagi. Wibawanya memancar tanpa perlu banyak kata. Dalam pertemuan adat yang penuh penghormatan, para tetua berembuk. Mereka se...

VENANSIA TOIJAAS

ANASTASIA MAYANG MOTA

Gambar
                                      Oleh: Ona Kobo A ku lahir dari bulan Juli yang memeluk bumi dengan hujan dan rindu. Di dadaku mengalir air bukan sekadar unsur, tetapi cara aku mencintai: diam, dalam, dan setia. N amaku bukan hanya rangkaian huruf, ia adalah doa yang dititipkan langit. Dalam sunyi aku sering berbicara pada laut, sebab hanya ombak yang mengerti betapa perasaan bisa pasang tanpa pernah meminta izin. A da merah dalam diriku warna kesukaanku, warna keberanian. Merah yang tidak selalu berteriak, namun menyala pelan di balik kelembutan seorang Cancer. S eperti ombak yang tak pernah berhenti, aku belajar menerima diri. Luka mengajarkanku bertumbuh, air mataku mengajarkanku kuat, dan nyanyianku mengajarkanku sembuh. T anggal sembilan bulan tujuh dua ribu tiga, aku datang membawa hati yang sensitif. Katanya aku terlalu perasa, tapi bukankah dunia butuh lebih banyak hat...

DON NABU

Gambar
                      Oleh: Ona Kobo D esember melahirkanku di antara angin yang lebih dingin dan langit yang terasa lebih luas. Sebagai Sagittarius, aku seperti anak panah selalu ingin melesat lebih jauh dari batas. O mbak mungkin indah, tapi hatiku memilih gunung. Di ketinggian, aku merasa dekat dengan Tuhan, dekat dengan sunyi, dan lebih dekat dengan diriku sendiri. N amaku Don singkat, sederhana, namun menyimpan bara. Api adalah elemennya Sagittarius, dan mungkin itu sebabnya aku tak pernah betah diam terlalu lama. N apas terasa berbeda di puncak. Setiap langkah mendaki adalah pelajaran tentang sabar. Setiap tanjakan mengajarkanku bahwa hidup tak pernah benar-benar datar. A da biru dalam hidupku warna kesukaanku. Biru langit yang luas, biru yang menenangkan, biru yang mengingatkanku bahwa ketenangan adalah kekuatan. B anyak orang melihatku sebagai pribadi bebas. Memang benar aku tak suka dikekang oleh ketakutan. Sagi...

KEBENARAN: EGOISME, RELATIVISME DAN UTILITARISME

Gambar
            Oleh: Ona Kobo Egoisme menghipnotis jiwa mereka tanpa  menyisihkan pada misteri Bergejolak dari motivasi cinta diri Real altruis tidak bersiuman pada sang egoisentris Fundamental berada pada logika Namun, relativis menyelam pada sudut pandang berbeda Bukan logika juga bukan ego Tetapi, keabsahan pada estimasi manusia  Walau tanpa remunerasi absolut Beranjak tuk menelaah Utilitarisme sebagai determinasi realitas Penjajakan antara aksi dan resiko Rekonstruksi, utilitarisme adalah kebenaran Resolusi tuk memilih realitas  Berkecambuk dalam naluri antara ego,  logika dan relativis  Jangan keliru dalam menuding. 

MARIA YONARTA ALBERTA KOBO

Gambar
                      Oleh: Ona Kobo M enulis adalah caraku bernapas, menitipkan luka dan syukur pada lembar-lembar sunyi. A ku berdiri dengan suara yang tak lagi gemetar, public speaking mengajariku percaya pada kata-kata sendiri. R indu pada puncak gunung selalu memanggil namaku, di ketinggian aku belajar rendah hati pada semesta. I ni aku, seorang pengajar yang setiap pagi menyalakan cahaya kecil di mata-mata muda. A da merah sebagai warna kesukaanku, merah yang berani, merah yang hidup, merah yang penuh cinta. Y ang kuharapkan kini sederhana tapi dalam: orang tua yang sehat dan bahagia dalam peluk doa. O mbak waktu boleh datang dan pergi, namun masa depan tetap kutatap dengan langkah pasti. N apas perjuanganku tak selalu terdengar, tapi Tuhan tahu seberapa jauh aku bertahan. A ku ingin cintaku kelak bukan sekadar rasa, melainkan rumah yang teduh dan setia. R uang-ruang kelas adalah ladang baktiku, di sana aku menanam...

DALAM KEHENINGAN

Gambar
                              Oleh: Ona Kobo Cinta ini tidak bersuara, ia berlutut dalam sunyi, bertumbuh dari hati yang rela memberi tanpa menagih kembali. Ia lahir dari ketulusan yang menyerahkan diri pada kehendak Ilahi, mencintai bukan untuk memiliki, melainkan untuk menjaga seperti Tuhan menjaga kehidupan. Cinta yang hidup adalah doa yang tak terucap, setia dalam luka, tabah dalam penantian, dan tetap percaya bahwa kasih tidak pernah sia-sia. Ia membentuk jiwa tanpa memaksa, menumbuhkan tanpa melukai, menguatkan tanpa mengikat. Dan dalam cinta yang demikian, aku belajar,  ketulusan adalah ibadah, kesetiaan adalah iman, dan mencintai tanpa pamrih adalah cara paling manusiawi untuk menyerupai Tuhan. ✨