SEJARAH SUKU AMASANAN

Oleh: Ona Kobo

Di sebuah wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di tanah yang dipeluk angin dan dijaga bukit-bukit sunyi, hiduplah sebuah suku tua bernama Amasanan. Suku ini berdiam di Desa Nansean, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, tanah yang bukan hanya menyimpan jejak kaki manusia, tetapi juga jejak kisah para leluhur.
Konon, pada zaman ketika matahari terasa lebih dekat dengan bumi dan manusia masih akrab dengan alam, datanglah seorang pemuda gagah perkasa dari Niku Sae Loro Sae (tanah terbitnya matahari). Namanya Bagista. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap, dan sorot matanya menyimpan keberanian sekaligus kebijaksanaan.
Bagista berjalan menyusuri banyak daerah hingga akhirnya tiba di Ainan. Kedatangannya disambut dengan hangat oleh suku Banusu. Dari kejauhan, sosok Bagista tampak seperti Koko On Bate atau seorang raja yang turun dari langit pagi. Wibawanya memancar tanpa perlu banyak kata. Dalam pertemuan adat yang penuh penghormatan, para tetua berembuk. Mereka sepakat memberinya nama baru: Boimau, yang kemudian dikenal sebagai Hitu Taboy.
Sejak saat itu, di Ainan berdirilah dua suku besar: Hitu Taboy dan Seo ma Banusu. Wilayah pun dibagi dengan bijak, Seo ma Banusu menetap di Sekon, sementara Hitu Taboy berdiam di Ainan. Dari garis inilah Suku Amasanan menjadi bagian dari Hitu Taboy, mewarisi bukan hanya nama, tetapi juga roh perjuangan dan adat yang sakral.
Waktu berjalan, dan Taboy memiliki dua anak: Ua Taboy dan Sniti Taboy. Dari merekalah lahir banyak cucu dan cicit yang meneruskan garis keturunan. Sebelum ajal menjemputnya, Kakek Bagista menitipkan pusaka: Bes kase terdiri dari buku dan bolpoin, lambang pengetahuan; dan Bes momo terdiri dari tajak, pacul, parang, lambang kerja dan perjuangan. Dua warisan itu menjadi penuntun hidup: berpikir dan bekerja.
Ketika Bagista wafat, ada anak-anak yang ingin merantau, mencari pengalaman tanpa memutus akar. Mereka membawa Bes kase sebagai bekal, tanda bahwa ilmu adalah cahaya di mana pun kaki berpijak. Tinggallah dua bersaudara: Sau dan Sanan. Sau dikenal sebagai Saunoah, dan Sanan sebagai Amasanan. Dalam suku ini, laki-laki disebut Amteme dan perempuan Ainteme,bsebutan yang mengandung hormat dan identitas.
Suku Amasanan berdiri di atas tiga tiang utama, tiga rumah adat yang bukan sekadar bangunan, melainkan jantung kehidupan.

Pertama, Ume Bese (Rumah Besar). Di sinilah tersimpan perlengkapan perang seperti auni (tombak) dan suni (klewang). Rumah ini adalah gerbang kehormatan. Setiap orang yang hendak masuk menjadi bagian suku harus melewati Ume Bese. Mereka dipandu oleh tua adat mengelilingi hauteas (kayu sakral) sebelum diizinkan masuk sebagai tanda restu dan pengesahan.

Kedua, Ume Leu (Rumah Sakral). Inilah pusat kesucian. Di dalamnya tersimpan sene (gong) dan benda-benda pusaka lainnya. Setiap pendatang baru harus meminta restu leluhur, diberkati dengan air, lalu mengelilingi hauteas tujuh kali, sebagai angka yang diwariskan oleh nenek moyang. Barulah mereka masuk ke dalam Ume Leu untuk menjalani ritual adat sebagai puncak penerimaan.

Ketiga, Ume Tola (Rumah Leluhur). Di sinilah para arwah nenek moyang diyakini berdiam. Terdapat nai (periuk), nabka (tempat sirih pinang), dan fatu leu (batu sakral). Dalam ritual terakhir, para anggota baru berdiri di bawah tiang rumah adat, berjalan mengelilinginya, lalu membuka perlengkapan adat sebagai lambang bahwa mereka telah sah menjadi bagian dari suku.

Namun kehidupan Amasanan bukan hanya tentang rumah dan ritual penerimaan. Setiap menjelang musim panen, tepatnya sekitar Februari atau Maret, digelar ritual Tah Feo sebagai tanda dimulainya makan hasil panen baru. Jagung, labu, bayam, kacang, kusambi, dan hasil bumi lainnya dipersembahkan lebih dahulu kepada leluhur.
Ada satu aturan sakral: ketika memikul jagung menuju rumah adat, seseorang tidak boleh berbicara. Jika bertemu orang di jalan, yang melihat harus bersembunyi. Keheningan adalah bentuk penghormatan. Jika ada yang tanpa sengaja melanggar karena tidak tahu adat, ia harus segera meminta ampun dan diberkati air oleh kepala suku agar terhindar dari malapetaka, sebagaimana tradisi Taboy mengajarkan.
Begitulah Amasanan menjaga hidupnya, dalam sunyi yang penuh makna, dalam adat yang mengikat hati, dalam warisan yang tidak lekang oleh waktu.
Ada pepatah Dawan yang terus mereka genggam hingga kini:
Tapan nain, nesan nabal.”
Keturunan boleh terus bertambah, zaman boleh berganti, tetapi tradisi harus tetap turun-temurun.
Dan bila suatu hari angin membawa langkahmu ke tanah Timor Tengah Utara, ke Kecamatan Insana, Desa Nansean, ingatlah bahwa di sana, di antara kayu sakral dan rumah-rumah adat, masih berdiri kisah lama yang setia menjaga namanya: Amasanan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA DI UJUNG KAMPUNG BESKEM

PENGAGUM RAHASIA

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN