ANASTASIA MAYANG MOTA

               

                      Oleh: Ona Kobo

Aku lahir dari bulan Juli
yang memeluk bumi dengan hujan dan rindu.
Di dadaku mengalir air bukan sekadar unsur,
tetapi cara aku mencintai: diam, dalam, dan setia.

Namaku bukan hanya rangkaian huruf,
ia adalah doa yang dititipkan langit.
Dalam sunyi aku sering berbicara pada laut,
sebab hanya ombak yang mengerti
betapa perasaan bisa pasang
tanpa pernah meminta izin.

Ada merah dalam diriku
warna kesukaanku, warna keberanian.
Merah yang tidak selalu berteriak,
namun menyala pelan
di balik kelembutan seorang Cancer.


Seperti ombak yang tak pernah berhenti,
aku belajar menerima diri.
Luka mengajarkanku bertumbuh,
air mataku mengajarkanku kuat,
dan nyanyianku mengajarkanku sembuh.


Tanggal sembilan bulan tujuh dua ribu tiga,
aku datang membawa hati yang sensitif.
Katanya aku terlalu perasa,
tapi bukankah dunia
butuh lebih banyak hati yang peduli?

Aku mencintai laut
karena ia tak pernah malu menjadi luas.
Ia menerima kapal, badai,
bahkan air mata yang jatuh ke dalamnya tanpa pernah kehilangan dirinya.

Suara adalah rumah keduaku.
Saat aku menyanyi,
aku tidak sekadar menyusun nada 
aku merapikan perasaan yang tak mampu kuucapkan dengan kata.

Ingin rasanya menjadi seperti air:
mengalir tanpa melukai,
namun cukup kuat
untuk mengikis batu kesombongan.
Lembut, tapi tidak lemah.

Aku yang bangkit dari hari-hari gelap.
Aku yang lentur dan bertumbuh.
Aku yang berdiri teguh,
meski badai sering datang tanpa aba-aba.


Merah adalah semangatku.
Ia berdenyut seperti darah di nadiku,
mengingatkanku bahwa hidup
bukan hanya tentang bertahan,
tetapi tentang berani mencintai sepenuh hati.

Aku perempuan air,
yang kadang menangis diam-diam,
namun tetap tersenyum agar orang lain kuat.
Cancer mengajariku arti rumah
dan aku berusaha menjadi rumah
bagi siapa pun yang lelah.

Yang kucari bukan gemerlap dunia,
tetapi ketenangan seperti senja di tepi laut.
Di sana aku bernyanyi pelan,
membiarkan angin membawa nadaku
hingga menyentuh langit.

Ada doa dalam setiap lagu yang kunyanyikan.
Ada harapan yang kuselipkan
di antara nada tinggi dan rendah.
Karena bagiku, bernyanyi
adalah cara paling jujur untuk hidup.

Namun aku juga manusia
yang kadang rapuh,
yang kadang ingin dipeluk
tanpa harus menjelaskan apa-apa.
Air dalam diriku
butuh dimengerti, bukan dihakimi.

Gelombang hidup boleh datang,
tapi aku akan tetap menjadi laut.
Boleh tenang, boleh bergelora
asal tetap menjadi diriku sendiri.

Menjaga keteguhan tentang berdiri meski hati pernah runtuh. Tentang memilih bangkit
meski dunia tak selalu ramah.

Ombak adalah cerminku
kadang tenang, kadang gaduh.
Tapi selalu kembali
pada garis pantai yang sama:
pada nilai, pada cinta, pada iman.

Tak semua orang mengerti kedalamanku,
sebab air tak pernah memamerkan isinya.
Namun yang menyelam cukup dalam
akan tahu, aku menyimpan samudra yang luas.

Akhirnya, aku hanyalah seorang perempuan
yang mencintai laut dan lagu,
yang menyukai merah karena ia hidup,
yang memeluk dunia dengan hati Cancer.
Dan jika suatu hari kau mendengar suaraku
menyanyikan rindu di tepi pantai 
ketahuilah, aku sedang merayakan hidupku
sebagai Anastasia Mayang Mota:
air yang lembut,
merah yang berani,
dan cinta yang tak pernah habis. 🌊❤️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA DI UJUNG KAMPUNG BESKEM

PENGAGUM RAHASIA

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN