MARIA YONARTA ALBERTA KOBO
Menulis adalah caraku bernapas,
menitipkan luka dan syukur pada lembar-lembar sunyi.
Aku berdiri dengan suara yang tak lagi gemetar,
public speaking mengajariku percaya pada kata-kata sendiri.
Rindu pada puncak gunung selalu memanggil namaku,
di ketinggian aku belajar rendah hati pada semesta.
Ini aku, seorang pengajar
yang setiap pagi menyalakan cahaya kecil di mata-mata muda.
Ada merah sebagai warna kesukaanku,
merah yang berani, merah yang hidup, merah yang penuh cinta.
Yang kuharapkan kini sederhana tapi dalam:
orang tua yang sehat dan bahagia dalam peluk doa.
Ombak waktu boleh datang dan pergi,
namun masa depan tetap kutatap dengan langkah pasti.
Napas perjuanganku tak selalu terdengar,
tapi Tuhan tahu seberapa jauh aku bertahan.
Aku ingin cintaku kelak bukan sekadar rasa,
melainkan rumah yang teduh dan setia.
Ruang-ruang kelas adalah ladang baktiku,
di sana aku menanam harapan dengan sabar.
Terkadang lelah menyapa diam-diam,
namun gunung mengajarkanku: puncak selalu menunggu yang tekun.
Aku percaya setiap kata yang kutulis
akan menemukan jalannya sendiri.
Ayah dan Ibu adalah doa yang berjalan,
merekalah alasan aku ingin menjadi lebih baik setiap hari.
Langkahku mungkin pelan,
tapi tekadku merah menyala seperti senja di puncak.
Bersama murid-muridku, aku belajar kembali arti mimpi.
Esok hari adalah halaman kosong,
dan aku siap menuliskannya dengan keberanian.
Rasa cinta yang kupinta bukan yang bising,
melainkan yang tinggal dan tumbuh.
Tuhan, jagalah masa depanku,
seperti Engkau menjaga setiap doa orang tuaku.
Aku adalah kisah yang terus ditulis,
bukan untuk menjadi sempurna, tapi untuk menjadi bermakna.
Ketika dunia terasa luas dan tinggi,
aku ingat gunung pernah menerimaku apa adanya.
Orang-orang mungkin melihatku sebagai guru,
namun di dalam, aku tetap anak yang ingin membahagiakan orang tua.
Biarlah suaraku tetap jujur,
biarlah tulisanku tetap hidup.
Oleh waktu dan cinta,
aku ingin dikenang sebagai perempuan yang berani bermimpi dan setia berjuang.
Komentar