Postingan

KASIH JUNI BERKISAH

Gambar
        Oleh : Ona Kobo Ku berjalan mengarugi arus waktu Menapaki ruang kisah yang menyayat Berjuang menjejaki kerikil tajam Ambisi menerobosi hingga menemui kisahku Tercecer darah di antara bebatuan Melintasinya tanpa berpaling  Saatnya berada di antara reruntuhan juni Sejenak beradu kasih dan kisah Tanpa ku sadari air mata membasahi pipi Berusaha menghapusnya dengan tisue bekas yang berserakan Waktu menyapa tiada henti Hujan terus menghilir  Di antara kebisingan dentumannya Membungkam dalam kesunyian semilir hujan juni Memberontak tuk berjuang menggapai kisah Penghujung juni begitu mengiris sukma Logika bernalar tentang kasih dan kisah Dingin mencengkram menembusi sumsum Namun pada Tuhan ku bersyukur  Tanpa kasihNya kita hanya gelintir debu Pinta penuh harap ada harapan Kesukaan melampui nalar dan naluri Walau awan pekat mengelabui Gemuruh angin kesenangan memecah keheningan Terima kasih dan selamat tinggal kisah juni.

BOLEHKAH ?

Gambar
             Oleh : Ona Kobo Pada penghujung hari Aku termenung di bawah pekatnya malam Termenung bersama sayup sang bayu Angan terbuai bersama rayuan sang bayu Menikmati dinginnya tanpa mengelak Sunyi mencengkram mengusik lamunan Dingin menembusi sumsum tulang Membekukan niat tuk bangkit Namun aku memberontak Memberantas dingin yang tak terkira Pada sepertiga malam Hanya terdengar suara jangkrik pada rerumputan Membungkam dalam keheningan Terlintas suara yang memanggil namaku Oh ternyata suara hantu  Aku memberontak dengan tawa Walau hanya senyum sipuh malu Bangkit dari rayuan sang bayu Yang mengusikku dengan dinginnya malam Bolehkah kita bersahabat? Seduhan secangkir kopi hangat  Tercatat syair-syair puisi Beralunkan melodi membahana Hembusan sang bayu menari kesana kemari Sang cahaya cakrawala hanya menatap penuh makna.

GERIMIS JUNI

Gambar
          Oleh : Ona Kobo Riak rintik tak beri peluang pada hati tuk berhenti Menyatukan ilusi dan realita dalam dekapan Hujan di bulan juni menyapa  Dikala sunyi terpejamkan Menyambut pagi dengan pekatnya awan Bersemilirkan hembusan sang bayu Suaran tetesan rintik di atas genteng Membuat genangan antara pepohonan Gerimis juni bersemi antara satu tahun Kutitipkan rindu pada hujan Membiarkannya membalut torehan luka sepanjang jalan Berpasrah pada pemilik  Walau gerimis pagi tak mampu memunculkan pelangi Biarlah bumi tempat berpijak basah Bunga bermekaran di lorong-lorong taman Akan ku utuhkan asa dan rasa pada langit hati yang sempat terserak rindu.

PENGHUJUNG WAKTU

Gambar
       Oleh : Ona Kobo Tahun 2022 telah bersemilir bersama hembusan angin musim Melintasi 151 km perjalanan Melelahkan juga menyenangkan Namun hadirnya adalah takdirku Bersama kasih Yesus Kristus  Wafat dan telah bangkit dengan jaya Afeksi yang sempurna tiada cela Menemani serta menuntun tiap langkah Adakalanya aku letih hingga meneteskan embun di pipi BundaMu Perawan Maria Menghapus embun di pipi, Menghantar pintaku padaMu Maria perawan tak bernoda Engkau ratu surga dan dunia Ibunda segala bangsa Terima kasih peralihan musim Penghujung Mei membuatku tercengang Pantaskah aku disini? Mungkin kehadiranku membuatMu risau Namun, takdirlah yang mempertemukan.

PEJUANG ABADI

Gambar
    Oleh : Kobo Cucuran peluh berderas pada kening Curahan air mata berlinang pada kelopak mata Ceceran darah bercecer pada jalanan Mencari sekoin rupiah pada  tiap persimpangan Untuk sang buah hati Ketegaranmu ayah menahan panas terik  Menajaki kerikil tajam di semak belukar Berpayungkan daun gewang saat hujan Melintasi genangan air dengan senyum Demi menggengam sekoin rupiah Menyusuri pekat dan heningnya malam Berlangkah tanpa alas kaki Lentera tak di miliki tuk menerangi  Namun, kasihNya menitahkan sang rembulan Menerangi lorong lorong semak belukarmu Pondok alang-alang di antara bangunan megah Menanti kehadiranmu penuh suka Lantunan sang bidadari tak bersayap menyambut ayah dengan ramah Dengan seduhan segelas kopi hitam Ditegerkan pada meja kayu  Anak-anakmu membolak-balikkan buku Mengintip dari dinding pondok alang-alang Tiada bahasa yang di lantunkan Jujur dalam sukma terdangkal Kapankah bisa membalasan kepenatan ayah? Bersama waktu yang k...

LEMBARAN 145 DARI 365

Gambar
        Oleh : Ona Kobo Terbentang 365 lembar musim  Bersua pada lembaran ke 145 Keberadaan sang surya terpantul Rembulan beredar hingga surya menghampiri Kesenjangan tak kunjung temu Mengobori relung hati nan pekat Gulana kalbu kian melonjak Apa kabarmu belahan rahim? Sukam amat pekat tanpa rembulan Namun sang surya tak'kan bertemu denganmu rembulan Walau tak sempat berpeluk erat Senjangan ini menganyomi kepekatan Serahim dan setali pusar dari ibunda angkasa Disparitas massa serta perihal kisah Kemanapun berkelana hanya pada angkasa tempat berpijak Berahi sang ibunda cakrawal amat ikhlas Adakalanya tak menyanjungi ketegarannya Pantulan sinar gelora tak menghiraukan Menelusuri massa tiada stabil Bergandeng tangan bersama cerah dan pekatnya awan.

MARIA YONARTA ALBERTA KOBO

Gambar
Oleh : Ona Kobo M erenung dalam keheningan A dalah caraku membungkam R ibuan rasa terpendam dalam sanubari I ngin mendekap dalam keutuhan A dakalanya berhamburan  Y ang berserakan tak berarah O mbak putih menghempas pada hamparan Pantai N amun, aku tetap berpijak di pinggir A ku berusaha menahan derasnya ombak R ajang menggerutui jiwaku T anpa henti aku terobrak abrikkan A ntara kegundahan A ku ingin mengarungi L autan lepas tanpa  B eban yang melekat pada jiwa E mbanan yang ku jalani redup R elung hati terus merenung T entang bentangan lautan yang ku arungi A pakah sampan'kan mampu? K ebimbangan mengelabui nalar dan naluri O h Tuhan B imbinglah aku mengarungi lautan, aku hanyalah puan yang tak mampu O h Tuhan hanya ini pintaku. (Maria Yonarta Alberta Kobo)