Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2026

AMBANG AKHIR JUNI

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Pada akhirnya, Juni hanyalah sebuah halaman yang selesai dibaca waktu,  Sementara kehidupan tetap menjadi kitab yang tak pernah mencapai titik terakhir. Bulan ini tidak pergi.  Ia hanya mengganti wujudnya: dari kalender menjadi kenangan,  Dari angka menjadi makna,  Dari peristiwa menjadi diam yang menetap di kedalaman jiwa. Bukankah setiap musim adalah cara semesta mengajarkan bahwa menggenggam terlalu lama hanya akan membuat bunga kehilangan harum sebelum waktunya? Lihatlah senja. Ia tidak pernah meratap ketika cahaya meninggalkan langit. Ia tahu, gelap bukan lawan terang, melainkan ruang tempat bintang belajar menyebut dirinya sendiri. Demikian pula Juni. Ia menanggalkan hari-harinya seperti pohon tua yang melepaskan daun-daunnya bukan karena kematian, melainkan karena kehidupan selalu membutuhkan keberanian untuk kehilangan. Waktu tidak pernah tergesa. Kitalah yang sering ber...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...