DI HADAPAN DINDING WAKTU
Oleh: Ona Kobo
Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim,
aku menggantungkan namamu
bagai pelita tua di serambi senja,
tetap bernyala meski angin
tidak lagi mengenal arah pulang.
Doaku mengalir
seperti sungai yang enggan mengabarkan
ke mana ia bermuara,
ia hanya setia menggendong langit
dan membawa namamu
ke hadapan Yang Mahatahu.
Jika malam adalah kitab sunyi,
maka setiap amin
ialah huruf-huruf yang kutulis
dengan tinta kesabaran,
agar semesta mengerti
bahwa ada harap
yang tidak pernah meminta tepuk tangan.
Dinding waktu hanyalah batu bisu,
namun ia hafal
setiap desir yang lahir dari dada,
setiap jeda yang mengandung namamu,
dan setiap musim
yang kulewati tanpa meninggalkan doa.
Di beranda fajar yang masih berbalut kabut,
kuserahkan kembali namamu
kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya.
Sebab doa bukan sekadar penantian,
melainkan akar yang diam-diam
menegakkan pohon harapan
meski tak pernah dipuji oleh bunga.
Maka biarlah dinding waktu
tetap menyimpan segala yang tak terucap.
Biarlah usia mengikis batu,
musim meluruhkan dedaunan,
namun jangan biarkan doa kehilangan arah.
Karena ada hal-hal yang tak ditakdirkan untuk dimiliki,
melainkan untuk disucikan
dalam keheningan yang panjang.
Kelak, entah takdir mempertemukan
atau membiarkan jalan-jalan tetap berjauhan,
biarlah waktu menjadi saksi
bahwa pernah ada seseorang
yang menyemai namamu
di ladang doa,
lalu membiarkannya bertumbuh
setenang embun
yang gugur tanpa meminta dikenang.
Komentar