AMBANG AKHIR JUNI

                  Oleh: Ona Kobo


Pada akhirnya, Juni hanyalah sebuah halaman yang selesai dibaca waktu, 
Sementara kehidupan tetap menjadi kitab yang tak pernah mencapai titik terakhir.
Bulan ini tidak pergi. 
Ia hanya mengganti wujudnya: dari kalender menjadi kenangan, 
Dari angka menjadi makna, 
Dari peristiwa menjadi diam yang menetap di kedalaman jiwa.
Bukankah setiap musim adalah cara semesta mengajarkan bahwa menggenggam terlalu lama hanya akan membuat bunga kehilangan harum sebelum waktunya?
Lihatlah senja. Ia tidak pernah meratap ketika cahaya meninggalkan langit. Ia tahu, gelap bukan lawan terang, melainkan ruang tempat bintang belajar menyebut dirinya sendiri.
Demikian pula Juni. Ia menanggalkan hari-harinya seperti pohon tua yang melepaskan daun-daunnya bukan karena kematian, melainkan karena kehidupan selalu membutuhkan keberanian untuk kehilangan.
Waktu tidak pernah tergesa. Kitalah yang sering berlari, seakan esok dapat ditangkap dengan telapak tangan. Padahal, masa depan hanyalah benih yang memilih bertumbuh di ladang kesabaran.
Akhir Juni mengajarkan bahwa tidak semua yang selesai adalah kegagalan. Ada yang memang harus usai agar makna memperoleh ruang untuk bernapas.
Maka biarkan bulan ini kembali kepada keabadiannya, seperti sungai yang tak pernah meminta airnya pulang ke hulu, atau angin yang tak pernah menghitung berapa daun yang telah diantarnya jatuh.
Sebab hidup bukan tentang berapa banyak musim yang berhasil kita simpan, melainkan tentang bagaimana kita menjelma tanah: menerima setiap yang gugur tanpa kehilangan kesanggupan untuk kembali menumbuhkan.
Dan ketika lembar terakhir Juni ditutup oleh malam, barangkali yang benar-benar berakhir bukanlah bulannya, melainkan diri kita yang lama, agar esok, dengan nama yang sama, kita lahir sebagai jiwa yang lebih luas daripada segala kehilangan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGAGUM RAHASIA

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN

DI HADAPAN DINDING WAKTU