Postingan

SEKEPING ASA

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Keping sahaja berserak antara puing waktu Membungkam, ilusi kian berseteru  Renggut rintih pilu tuk kesekian kalinya Mengadu pada alunan sepoi angin Kertas putih berpena merah Menoreh tinta pada kertas kusam nan elok Citra sekeping asa nan kelam Semburat tawa sembari merampas pilu Pada sepertiga malam Mengadu pada Sang Penilik kehidupan Langkah kecil menyusuri pekatnya Menembusi dengan secerca cahaya-Nya Binar gemintang membelai gemulai Melahap merana sendu dalam riak  Seketika tersipu pada kolong langit Kembali berseteru dengan ilusi Kepingan asa  Katupan rasa menjelma asa Semangat masih saja tersulam Membunuh lara disetiap detak jam dinding.

TERSESAT PADA AMBISI

Gambar
      Oleh: Ona Kobo Antariksa  terselimuti gegana pekat Menyisir kembali afeksi yang kucar Tersendat pada seperempat  Berikhtiar tuk kembali pada peraduan Rinai di atas genteng mencacak nalar Melintasi genangan pada persimpangan Tetapi tak bisa membuntang pada teduhan Terpaku kedinginan dalam kebisingan  Aku seakan tersesat dalam ambisi Mengelabui naluri juang Mereka menunggu pada konklusi Namun,kini tersesat Haruskan menyebrangi genangan Kini mataku sembab Seolah mereka tak memedulikan Berteriak kaku meminta tolong Misteri bak menyayat Menghujam kalbu dalam keheningan Ambisi ini bersikeras melampaui daya Haruskah terbuai dengan ambisi?

JIWA PEJUANG

Gambar
                                        Oleh: Ona Kobo Dari sabang sampai marauke Terbentang ribuan pulau Berserak para pejuang Tuk merajut cita yang jauh disana Impresi jiwa terlukis pada bingkai pejuang Adakalanya tangis dan gundah mengalahkan Aku tak mengelak, melawan realita bak menyayat Apa bisa? Kata negeriku: Jangan menangis, awas saja matamu sembab Aku akan marah padamu, menangislah jika aku tidak bersamamu Namun, kini aku ada di pihakmu Wahai pejuang nusantara Rakitlah kapal yang kokoh Tuk menyusuri samudera cita nan luas Jangan bergumam protes, jika ombak menghempas 70 tahun kemarin Para pahlawan berjuang membela nusantara Percikan darah bercecer dimana-mana Menekan mental dan kebebasan pejuang Tapi,apakah mereka diam? Oh tidak. Sekali-kali tidak dibiarkan Pantang menyerah, terus maju Bersama bambu runcing kita menang Proses yang sukar Demi menggengam berlian cita Ni...

SEJARAH SINGKAT SUKU TABOY

Di Sonaf Oelolok ada satu bagian yang disebut dengan Ainan,dan di situ ada banyak suku yang pintunya dikenal dengan Eno Taboy ma Banusu (pintu suku adalah taboy dan banusu). Banusu itu di bagian susulaku dan sekon sedangkan suku taboy di Nansean. Suku taboy sebagai pintu untuk suku-suku lain yang terdiri dari 7 suku yaitu: Taboy,Saunoah,Amasanan,Amtonis,Amafnini,Naibobe dan Amuna.Dari ke-7 suku ini memiliki keterikatan yang sangat erat karena berasal darisatu keturunan. Nah,sekarang kita akan kaji lebih dalam mengenai suku Taboy.Rumah adat suku taboy berada di paling ujung atau sebagai pintu masuk ke deretan rumah adat di Nansean yang letaknya di Blok C_desa Nansean.Sebutan untuk laki-laki adalah Am Boy dan perempuan adalah Ain Ele. Rumah adat suku taboy terdiri dari tiga rumah adat yaitu :  1.Ume Bese ( Rumah besar) Ume Bese (Rumah besar) memiliki kesakralan yang sama dengan yang lain dan didalamnya terdapat alat atau perlengkapan peperangan seperti Auni(tombak), Suni(klewang),dll...

KASIH JUNI BERKISAH

Gambar
        Oleh : Ona Kobo Ku berjalan mengarugi arus waktu Menapaki ruang kisah yang menyayat Berjuang menjejaki kerikil tajam Ambisi menerobosi hingga menemui kisahku Tercecer darah di antara bebatuan Melintasinya tanpa berpaling  Saatnya berada di antara reruntuhan juni Sejenak beradu kasih dan kisah Tanpa ku sadari air mata membasahi pipi Berusaha menghapusnya dengan tisue bekas yang berserakan Waktu menyapa tiada henti Hujan terus menghilir  Di antara kebisingan dentumannya Membungkam dalam kesunyian semilir hujan juni Memberontak tuk berjuang menggapai kisah Penghujung juni begitu mengiris sukma Logika bernalar tentang kasih dan kisah Dingin mencengkram menembusi sumsum Namun pada Tuhan ku bersyukur  Tanpa kasihNya kita hanya gelintir debu Pinta penuh harap ada harapan Kesukaan melampui nalar dan naluri Walau awan pekat mengelabui Gemuruh angin kesenangan memecah keheningan Terima kasih dan selamat tinggal kisah juni.

BOLEHKAH ?

Gambar
             Oleh : Ona Kobo Pada penghujung hari Aku termenung di bawah pekatnya malam Termenung bersama sayup sang bayu Angan terbuai bersama rayuan sang bayu Menikmati dinginnya tanpa mengelak Sunyi mencengkram mengusik lamunan Dingin menembusi sumsum tulang Membekukan niat tuk bangkit Namun aku memberontak Memberantas dingin yang tak terkira Pada sepertiga malam Hanya terdengar suara jangkrik pada rerumputan Membungkam dalam keheningan Terlintas suara yang memanggil namaku Oh ternyata suara hantu  Aku memberontak dengan tawa Walau hanya senyum sipuh malu Bangkit dari rayuan sang bayu Yang mengusikku dengan dinginnya malam Bolehkah kita bersahabat? Seduhan secangkir kopi hangat  Tercatat syair-syair puisi Beralunkan melodi membahana Hembusan sang bayu menari kesana kemari Sang cahaya cakrawala hanya menatap penuh makna.

GERIMIS JUNI

Gambar
          Oleh : Ona Kobo Riak rintik tak beri peluang pada hati tuk berhenti Menyatukan ilusi dan realita dalam dekapan Hujan di bulan juni menyapa  Dikala sunyi terpejamkan Menyambut pagi dengan pekatnya awan Bersemilirkan hembusan sang bayu Suaran tetesan rintik di atas genteng Membuat genangan antara pepohonan Gerimis juni bersemi antara satu tahun Kutitipkan rindu pada hujan Membiarkannya membalut torehan luka sepanjang jalan Berpasrah pada pemilik  Walau gerimis pagi tak mampu memunculkan pelangi Biarlah bumi tempat berpijak basah Bunga bermekaran di lorong-lorong taman Akan ku utuhkan asa dan rasa pada langit hati yang sempat terserak rindu.