Simponi yang Retak di Dalam Diri
Oleh: Ona Kobo
Di kepalaku,
malam tidak pernah benar-benar tiba
ia hanya redup,
lalu berubah menjadi gema yang berulang-ulang memanggil namaku
dengan suara yang bukan milikku.
Pikiran-pikiran itu
datang seperti ombak yang lupa cara kembali,
menghantam tanpa jeda,
meninggalkan serpihan rasa
yang tak sempat kusebut sebagai luka.
Aku mencoba merapikan mereka
menyusunnya seperti doa yang ingin ku pinta
namun huruf-hurufnya berjatuhan
sebelum sempat kupahami maknanya.
Ada gaduh yang berwajah tenang,
ada sunyi yang terasa berisik,
dan aku terjebak di antaranya—
seperti langit yang tak mampu memilih
antara hujan atau petir.
Sering kali aku ingin diam,
tapi pikiranku justru bersuara lebih keras,
mengulang hal-hal yang tak ingin kuingat,
menciptakan takut dari bayangan
yang bahkan belum sempat menjadi nyata.
Aku lelah
bukan karena dunia terlalu berat,
tetapi karena diriku sendiri
terlalu penuh untuk kutenangkan.
Namun di sela riuh yang tak bernama itu,
aku mulai belajar meraba pelan-pelan:
barangkali aku bukan harus menguasai semuanya,
barangkali aku hanya perlu menemani diriku
yang tersesat di dalam kepala sendiri.
Dan jika malam ini
aku belum mampu menenangkan badai itu,
setidaknya aku masih di sini
tidak pergi,
tidak menyerah,
hanya duduk…
bersama diriku yang sedang retak,
dan perlahan belajar utuh
tanpa harus sempurna.
ia hanya redup,
lalu berubah menjadi gema yang berulang-ulang memanggil namaku
dengan suara yang bukan milikku.
Pikiran-pikiran itu
datang seperti ombak yang lupa cara kembali,
menghantam tanpa jeda,
meninggalkan serpihan rasa
yang tak sempat kusebut sebagai luka.
Aku mencoba merapikan mereka
menyusunnya seperti doa yang ingin ku pinta
namun huruf-hurufnya berjatuhan
sebelum sempat kupahami maknanya.
Ada gaduh yang berwajah tenang,
ada sunyi yang terasa berisik,
dan aku terjebak di antaranya—
seperti langit yang tak mampu memilih
antara hujan atau petir.
Sering kali aku ingin diam,
tapi pikiranku justru bersuara lebih keras,
mengulang hal-hal yang tak ingin kuingat,
menciptakan takut dari bayangan
yang bahkan belum sempat menjadi nyata.
Aku lelah
bukan karena dunia terlalu berat,
tetapi karena diriku sendiri
terlalu penuh untuk kutenangkan.
Namun di sela riuh yang tak bernama itu,
aku mulai belajar meraba pelan-pelan:
barangkali aku bukan harus menguasai semuanya,
barangkali aku hanya perlu menemani diriku
yang tersesat di dalam kepala sendiri.
Dan jika malam ini
aku belum mampu menenangkan badai itu,
setidaknya aku masih di sini
tidak pergi,
tidak menyerah,
hanya duduk…
bersama diriku yang sedang retak,
dan perlahan belajar utuh
tanpa harus sempurna.
Komentar