Di Antara Langit yang Belum Selesai
Oleh: Ona Kobo
Masa depan itu seperti jalan berkabut,
aku melangkah bukan karena tahu arah,
tetapi karena percaya
bahwa setiap lelah punya rumahnya sendiri.
Kadang langkah ini goyah,
seperti ranting yang digoyang angin ragu,
namun aku tetap berdiri
sebab di dalam jatuh pun
aku belajar arti bangkit yang sesungguhnya.
Hari-hari berjatuhan seperti daun,
tak selalu hijau, tak selalu utuh,
namun tetap kupungut satu per satu
sebagai tanda bahwa aku pernah berjuang,
bahwa aku tidak menyerah pada waktu
yang sering kali terasa terlalu kejam.
Ada malam-malam yang panjang,
di mana pikiran menjadi lautan tanpa tepi,
dan aku hanyut di dalamnya,
mencari daratan yang bernama harapan.
Namun di antara semua itu,
aku menemukan diriku sendiri
yang perlahan tumbuh dari luka,
yang diam-diam menjadi kuat
tanpa perlu tepuk tangan dunia.
Dan tentangmu,
kau seperti bintang yang tak pernah kumiliki,
hadirmu jauh, namun cahayamu dekat,
menemani gelapku tanpa pernah berjanji.
Aku tidak pernah benar-benar memanggilmu,
namun hatiku selalu tahu ke mana harus pulang
pada namamu yang kusematkan
di sela doa-doa yang lirih.
Namamu kusebut dalam doa yang tak bersuara,
seperti angin yang mencium laut
tanpa pernah meminta untuk tinggal,
seperti hujan yang jatuh
tanpa berharap disambut bumi.
Aku mengagumimu dalam diam,
seperti senja yang mencintai langit
tanpa pernah ingin mengubah warna,
cukup menjadi indah
meski hanya sebentar dipandang.
Aku tidak mengejarmu,
aku hanya menjaga rasa ini tetap hidup
dalam sunyi yang paling setia,
dalam jarak yang mengajarkan arti ikhlas.
Sebab ada hal-hal yang memang diciptakan
bukan untuk dimiliki,
melainkan untuk dirawat
dalam harap yang tidak pernah menuntut,
dalam cinta yang tidak pernah memaksa.
Dan jika suatu hari takdir mempertemukan,
aku ingin datang bukan sebagai luka,
melainkan sebagai seseorang
yang telah selesai dengan dirinya sendiri.
Namun jika tidak,
biarlah aku tetap menjadi doa
yang tidak pernah kau dengar,
dan kau tetap menjadi alasan
mengapa aku belajar bertahan.
Aku
tetap berjalan di jalan yang belum selesai itu,
membawa mimpi, luka, dan namamu
dalam satu hati yang terus belajar kuat.
Sebab masa depan bukan tentang siapa yang datang,
tetapi tentang siapa yang tetap bertahan
meski sendirian,
meski harus mencintai dalam diam,
dan berjuang tanpa diketahui siapa pun.
Dan di ujung semua ini,
aku mulai belajar melepaskan
bukan karena tak lagi merasa,
tetapi karena realita mengajarkanku
bahwa tidak semua harapan harus menjadi nyata.
Aku menyerahkan segalanya pada waktu,
pada jalan yang telah digariskan semesta,
tanpa lagi memaksa arah
yang tak pernah benar-benar memilihku.
Jika nanti kita menjadi cerita,
biarlah itu menjadi kenangan yang tenang,
bukan penyesalan yang terus berulang.
Dan aku…
akan tetap melangkah,
dengan hati yang telah berdamai,
menitipkan rasa ini pada realita
yang mungkin tak sesuai harap,
namun selalu tahu
ke mana seharusnya aku pulang.
Komentar