GOLGOTA: SUNYI YANG MENANGIS
Oleh: Ona Kobo
Langit merunduk pada siang yang kehilangan cahaya,
awan-awan menghitam seperti duka yang tak sempat diucapkan.
Angin berhenti di antara napas yang tertahan,
dan bumi diam… terlalu diam untuk sebuah kematian.
Di puncak sepi itu,
Engkau terpaku pada kayu yang tak bernyawa,
namun justru di sanalah
cinta menemukan suaranya yang paling dalam.
Darah-Mu menetes perlahan,
seperti doa yang jatuh tanpa suara,
membasuh tanah yang dulu Kau panggil “baik”,
kini basah oleh luka Sang Pencipta.
Teriakan, cemooh, dan tawa
bercampur menjadi satu di kaki salib,
namun Engkau tidak menjawab dengan murka,
hanya dengan mata yang tetap memeluk dunia.
“Bapa… ampunilah mereka…”
kata-kata itu retak di antara napas terakhir,
namun justru di situlah
langit belajar tentang arti kasih yang tak bersyarat.
Aku berdiri di kejauhan
tak sanggup menatap terlalu lama,
karena setiap luka-Mu
seperti memanggil namaku dalam diam.
Golgota bukan sekadar bukit,
ia adalah altar dari cinta yang disayat,
tempat di mana kehilangan menjadi persembahan,
dan penderitaan berubah menjadi keselamatan.
Hari itu gelap,
gelap yang menelan arah dan harapan,
namun dari salib yang sunyi itu,
Engkau menyalakan terang
terang yang lahir dari luka,
dan hidup… untuk selama-lamanya.
Langit merunduk pada siang yang kehilangan cahaya,
awan-awan menghitam seperti duka yang tak sempat diucapkan.
Angin berhenti di antara napas yang tertahan,
dan bumi diam… terlalu diam untuk sebuah kematian.
Di puncak sepi itu,
Engkau terpaku pada kayu yang tak bernyawa,
namun justru di sanalah
cinta menemukan suaranya yang paling dalam.
Darah-Mu menetes perlahan,
seperti doa yang jatuh tanpa suara,
membasuh tanah yang dulu Kau panggil “baik”,
kini basah oleh luka Sang Pencipta.
Teriakan, cemooh, dan tawa
bercampur menjadi satu di kaki salib,
namun Engkau tidak menjawab dengan murka,
hanya dengan mata yang tetap memeluk dunia.
“Bapa… ampunilah mereka…”
kata-kata itu retak di antara napas terakhir,
namun justru di situlah
langit belajar tentang arti kasih yang tak bersyarat.
Aku berdiri di kejauhan
tak sanggup menatap terlalu lama,
karena setiap luka-Mu
seperti memanggil namaku dalam diam.
Golgota bukan sekadar bukit,
ia adalah altar dari cinta yang disayat,
tempat di mana kehilangan menjadi persembahan,
dan penderitaan berubah menjadi keselamatan.
Hari itu gelap,
gelap yang menelan arah dan harapan,
namun dari salib yang sunyi itu,
Engkau menyalakan terang
terang yang lahir dari luka,
dan hidup… untuk selama-lamanya.
Komentar