OASE DI UJUNG MANIK ROSARIO
Oleh: Ona Kobo
Di antara sunyi dan kepulan asap lilin yang menari,
Engkau hadir sebagai hening yang paling murni.
Bukan sekadar nama dalam deretan manik-manik rosario,
Tapi pelukan yang utuh saat dunia terasa riuh.
Wahai Sang Mawar Gaib yang tak pernah layu,
Engkau adalah "Ya" yang mengubah sejarah waktu.
Dalam rahimmu, Langit dan Bumi saling beradu,
Melahirkan Terang di tengah malam yang membiru.
Bunda bagi mereka yang kehilangan arah pulang,
Engkau simpan segala duka dalam palung hati yang tenang.
Tak perlu banyak kata untuk menyatakan cinta,
Sebab jubah birumu cukup luas untuk mendekap semua air mata.
Engkau adalah perempuan bersahaja dari Nazareth,
Yang langkah kakinya setia meski jalanan terasa pedih.
Dari palungan yang hina hingga puncak Golgota yang letih,
Kesetiaanmu adalah api yang tak pernah habis tersisih.
Di bawah kaki salib, Engkau berdiri dengan teguh,
Mengajarkan kami cara mencintai tanpa perlu mengeluh.
Saat pedang duka menembus jantungmu yang suci,
Engkau tetap menjadi samudera ampunan yang tak bertepi.
Jadilah bintang fajar yang menuntun langkah kami yang fana,
Di tengah badai dunia yang seringkali membuat terpedaya.
Ulurkan tanganmu yang lembut, wahai Bunda segala bangsa,
Agar kami tak karam dalam arus dosa dan rasa putus asa.
Sampaikanlah salam kami, rindu kami, dan rapuhnya hati,
Hingga kelak kami sampai di keabadian yang Engkau janji.
Bawa doa-doa kami yang retak kehadapan takhta Putra-Mu,
Sebab hanya melalui engkau, jalan kami terasa lebih syahdu.
Ave Maria, Sang Penuh Rahmat, Ratu Surgawi,
Di dalam senyum-Mu, kami temukan damai yang abadi.
Biarlah doa kami membubung bersama harumnya melati,
Menjadi persembahan tulus dari kami yang mencintai.
Dalam setiap butir peristiwa yang kami daraskan,
Engkau adalah saksi bisu dari setiap harapan yang dipanjatkan.
Bukan hanya saat suka kami datang mencari rupa-Mu,
Namun di palung duka, Engkaulah yang membasuh debu di dahi kami yang lesu.
Engkau yang mengerti bahasa isyarat dari hati yang patah,
Serta memahami rintihan jiwa yang lelah karena merasa kalah.
Bagai embun pagi yang jatuh di tanah yang gersang dan tua,
Kehadiranmu menyejukkan kerongkongan jiwa yang dahaga akan doa.
Jadilah pelita yang tak padam saat badai keraguan menerpa,
Mengingatkan kami bahwa kasih Tuhan melampaui segala rupa.
Ajari kami untuk tunduk seperti engkau di hadapan Sabda,
Menjadikan hidup sebagai persembahan yang hidup bagi Yang Maha Esa.
Maka di ujung hari, saat mentari hidup kami perlahan terbenam,
Biarlah namamu menjadi kata terakhir yang di batin kami terpatri dalam.
Hingga di ambang pintu surga, Engkau telah berdiri menanti,
Menjemput anak-anakmu untuk pulang ke rumah Bapa yang abadi.
Komentar