GORESAN PENA 26-06-2026
Ada tanggal-tanggal yang lahir hanya untuk menjadi angka,
lalu dilupakan bersama debu kalender.
Namun ada pula yang datang
seperti embun yang memilih daun paling sunyi,
membawa rahasia yang tak sanggup diterjemahkan oleh waktu.
26-06-2026, barisan angka yang tersusun
laksana jemari hujan
yang mengetuk jendela musim,
seolah langit sedang belajar menulis puisi
dengan tinta berwarna senja.
Tanggal ini bukan sekadar hitungan.
Ia adalah cermin
yang memantulkan wajah hari
tanpa perlu bersolek oleh kemewahan.
Cantiknya bukan karena simetri angka,
melainkan karena ia mengajarkan
bahwa keindahan sering lahir
dari hal-hal yang tampak sederhana.
Aku membayangkannya
sebagai sehelai daun yang tak pernah meminta angin,
namun tetap menari
ketika semesta mengembuskan harapan.
Sebagai sungai
yang tak pernah memamerkan muaranya,
tetapi setia mengantar setiap riak
menuju lautan yang lapang.
Di balik angka dua dan enam
tersembunyi percakapan bumi dengan langit:
tentang benih yang memilih sabar,
tentang akar yang rela gelap
agar kelak pohon mengenal cahaya.
Barangkali setiap tanggal
adalah halaman kosong.
Namun 26 Juni 2026
datang seperti kertas yang telah lama menunggu pena,
mengajak siapa pun yang singgah
menuliskan kisah terbaiknya
dengan keberanian yang tak mudah luntur.
Maka jika kelak hari ini berlalu,
biarlah ia tidak dikenang
karena cantiknya susunan angka,
melainkan karena ia sempat menjadi taman
tempat doa-doa bertumbuh tanpa suara,
tempat harapan berbunga tanpa tepuk tangan,
dan tempat waktu menitipkan pesan
bahwa hidup selalu menemukan caranya
untuk menjadikan yang sederhana
terlihat begitu memesona.
Sebab pada akhirnya,
tanggal yang paling indah
bukanlah yang paling langka,
melainkan yang berhasil mengubah
selembar kalender
menjadi selembar kenangan.
Komentar