KANVAS PUTIH Vs TINTA HITAM
Oleh: Ona Kobo
Hidup kadang menyerupai selembar kanvas putih, yang terbentang diam di hadapan waktu
sunyi, kosong, namun justru di situlah
segala kemungkinan lahir perlahan.
Sedangkan hari-hari, datang seperti tinta hitam
yang jatuh setetes demi setetes ke atas permukaan hidup; membentuk garis, bayangan,
juga luka yang tak selalu bisa dijelaskan.
Aku pernah ingin melukis segalanya dengan sempurna, membuat setiap sudut terlihat indah
tanpa noda dan tanpa salah.
Namun ternyata hidup tidak pernah benar-benar diciptakan untuk menjadi lukisan yang rapi.
Ada tangan yang gemetar saat menggambar mimpi, ada warna yang tiba-tiba memudar
meski sudah dijaga sepenuh hati,
dan ada hujan panjang yang membuat tinta melebar ke mana-mana hingga bentuknya sulit dikenali lagi.
Kadang aku duduk terlalu lama di depan kanvas hidupku sendiri,
bingung harus melanjutkan garis yang mana,
takut jika satu goresan kecil justru merusak seluruh cerita.
Tetapi malam mengajarkanku sesuatu:
bahwa bahkan tinta hitam pun
tidak selalu berarti gelap.
Kadang ia hadir untuk mempertegas arti cahaya, untuk memberi kedalaman
pada lukisan yang terlalu pucat oleh harapan kosong.
Bukankah langit malam juga hitam, namun tetap menyimpan bintang?
Bukankah luka sering kali menjadi tempat
lahirnya manusia yang lebih kuat?
Maka perlahan aku belajar, bahwa hidup bukan tentang menjaga kanvas tetap bersih selamanya,
melainkan tentang berani menerima
setiap coretan yang pernah singgah di atasnya.
Sebab ada tinta yang datang sebagai kenangan,
ada yang menjelma penyesalan,
dan ada pula yang berubah menjadi doa
yang diam-diam menguatkan seseorang
saat dunia terasa terlalu bising.
Aku mulai memahami bahwa beberapa noda
tidak perlu dihapus sepenuhnya.
Karena justru dari bagian yang berantakan itulah lukisan kehidupan terlihat nyata
tidak palsu, tidak dibuat-buat,
dan tetap hidup meski penuh retakan.
Kadang aku ingin menyerah saja,
membiarkan kanvas ini kosong kembali,
tanpa garis, tanpa harapan, tanpa mimpi.
Namun setiap kali ingin berhenti,
selalu ada sesuatu dalam diriku
yang diam-diam berkata: “Lanjutkan saja…
meski perlahan.”
Dan aku tahu, suara kecil itu mungkin adalah doa yang tumbuh diam-diam di dalam hati.
Doa yang tidak selalu meminta hidup menjadi mudah, tetapi memohon agar langkah ini
tetap kuat berjalan meski jalannya tak selalu terang.
Kini aku mengerti, kanvas putih tidak pernah takut pada tinta hitam.
Karena ia tahu, setiap goresan entah indah atau menyakitkan akan tetap menjadi bagian
dari lukisan yang suatu hari nanti
disebut kehidupan.
Dan mungkin, Tuhan adalah Sang Pelukis itu,
yang tetap bekerja dalam diam
meski manusia sering menangis
karena tak memahami gambar-Nya.
Sementara aku hanyalah kanvas kecil
yang sedang belajar menerima
bahwa tidak semua warna harus cerah
untuk bisa disebut indah.
Komentar