SUATU HARI DI BULAN JUNI

               Oleh: Ona Kobo

Suatu hari di bulan Juni,
langit datang seperti selembar surat tua
yang terselip di antara halaman-halaman waktu.
Angin membacanya perlahan,
sementara dedaunan menjadi aksara
yang menari di atas tanah yang diam.

Pada hari itu,
matahari tidak sekadar terbit dari timur,
ia seperti pelita emas
yang digantungkan Tuhan di beranda pagi,
mengajarkan cahaya untuk tetap setia
meski malam berkali-kali datang menghapus jejaknya.

Aku melihat kehidupan
seperti kanvas putih yang terbentang panjang,
dan setiap peristiwa adalah tinta hitam
yang tidak selalu indah saat ditorehkan,
namun kelak membentuk gambar
yang tak pernah mampu ditebak oleh pemiliknya.

Suatu hari di bulan Juni,
hujan turun seperti kenangan
yang lama berdiam di sudut hati.
Ia tidak mengetuk pintu,
tetapi hadir diam-diam
membasahi taman-taman yang hampir lupa cara berbunga.

Waktu berjalan seperti sungai tua,
membawa ranting-ranting harapan,
daun-daun kegagalan,
dan batu-batu penyesalan
menuju lautan yang bernama penerimaan.

Di kejauhan,
aku melihat pohon-pohon berdiri teguh.
Mereka mengajarkan bahwa akar
tidak pernah iri kepada bunga.
Sebab yang membuat bunga bertahan mekar
adalah kesetiaan akar mencintai tanah.

Suatu hari di bulan Juni,
aku memahami bahwa hidup
bukan tentang seberapa cepat sampai,
melainkan tentang bagaimana tetap berjalan
meski jalan kadang berubah menjadi kabut,
dan arah terasa seperti teka-teki yang belum selesai.

Maka kubiarkan hari itu berlalu
seperti burung yang kembali ke sarangnya saat senja,
membawa sebutir syukur di paruhnya.
Sebab tidak semua yang hilang adalah kehilangan,
dan tidak semua yang tertunda adalah kegagalan.

Karena suatu hari di bulan Juni,
aku belajar dari embun yang singgah di ujung daun
bahwa hal-hal kecil pun dapat memantulkan langit,
dan hati yang sederhana pun dapat menyimpan semesta.

Lalu malam datang
seperti selimut hitam yang disulam bintang-bintang.
Aku menatapnya dalam diam,
dan bulan Juni berbisik pelan: "Tetaplah bertumbuh seperti pohon yang tak tergesa menjadi hutan,
tetaplah mengalir seperti sungai yang tak pernah memaksa lautan datang lebih cepat."

Dan sejak hari itu,
aku tidak lagi menghitung perjalanan dengan jarak,
melainkan dengan syukur yang bertambah
di setiap langkah yang masih diberi kesempatan untuk hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA DI UJUNG KAMPUNG BESKEM

PENGAGUM RAHASIA

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN