DI BALIK BATU YANG DIAM
Oleh: Ona Kobo
Orang-orang mengenalnya sebagai tebing yang tidak lekang oleh musim,
sebab ia berdiri tanpa banyak mengeluh, seakan angin tidak pernah menemukan celah untuk menggugurkan keteguhannya.
Padahal, di balik batu yang tampak kokoh, ada mata air yang diam-diam mencari jalan pulang.
Ada getir yang di pendam agar dunia tidak belajar membaca betapa ringkihnya sebuah keberanian.
Ia melangkah bukan karena tidak mengenal takut,
melainkan karena tidak ingin ketakutannya menjadi beban bagi pundak-pundak yang telah letih.
Namun ketika senja menutup halaman langit, ia sering bertanya kepada sunyi, "Masihkah esok menyimpan tempat bagi langkah yang mulai kehilangan yakin?"
Ia kuat, setidaknya begitulah dunia menamainya.
Tetapi di ruang yang tidak dijangkau sorak, ia masih meragukan dirinya sendiri,
Seperti pelita yang tetap menyala sambil cemas apakah fajar akan benar-benar datang menjemput.
Kadangkala, kekuatan bukanlah tiadanya keretakan,
melainkan kesanggupan memeluk retak itu tanpa membiarkannya menjadi alasan untuk berhenti berjalan.
Maka ia terus menenun hari,
meski benang harap kadang terurai oleh cemas,
sebab ia percaya, bahkan pohon yang paling kokoh pun pernah gemetar di hadapan angin,
namun tetap memilih mengakar pada janji waktu.
Orang-orang mengenalnya sebagai tebing yang tidak lekang oleh musim,
sebab ia berdiri tanpa banyak mengeluh, seakan angin tidak pernah menemukan celah untuk menggugurkan keteguhannya.
Padahal, di balik batu yang tampak kokoh, ada mata air yang diam-diam mencari jalan pulang.
Ada getir yang di pendam agar dunia tidak belajar membaca betapa ringkihnya sebuah keberanian.
Ia melangkah bukan karena tidak mengenal takut,
melainkan karena tidak ingin ketakutannya menjadi beban bagi pundak-pundak yang telah letih.
Namun ketika senja menutup halaman langit, ia sering bertanya kepada sunyi, "Masihkah esok menyimpan tempat bagi langkah yang mulai kehilangan yakin?"
Ia kuat, setidaknya begitulah dunia menamainya.
Tetapi di ruang yang tidak dijangkau sorak, ia masih meragukan dirinya sendiri,
Seperti pelita yang tetap menyala sambil cemas apakah fajar akan benar-benar datang menjemput.
Kadangkala, kekuatan bukanlah tiadanya keretakan,
melainkan kesanggupan memeluk retak itu tanpa membiarkannya menjadi alasan untuk berhenti berjalan.
Maka ia terus menenun hari,
meski benang harap kadang terurai oleh cemas,
sebab ia percaya, bahkan pohon yang paling kokoh pun pernah gemetar di hadapan angin,
namun tetap memilih mengakar pada janji waktu.
Komentar