Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

PENANTIAN DI UJUNG DOA

Gambar
            Oleh: Ona Kobo Di dalam sunyi yang panjang,  aku menaruh namaku sendiri  pada lembar yang belum selesai dituliskan waktu. Ada aksara yang belum sempat menjadi kalimat, ada cita yang masih berdiam di balik pintu takdir, dan ada harap yang kupelihara seperti nyala kecil di telapak tangan yang gemetar. Aku telah lama bersahabat dengan penantian. Ia datang tanpa mengetuk, duduk di sampingku, lalu mengajariku bagaimana menyimpan luka tanpa membencinya, menyimpan rindu tanpa menyebut namanya, dan menyimpan harapan tanpa memaksa hari esok lekas tiba. Kadang aku merasa hidup hanyalah sebuah kitab tua yang halamannya harus kubuka satu demi satu. Ada halaman yang membuatku tersenyum, ada halaman yang basah oleh air mata, dan ada halaman yang ingin kulewati namun selalu mengajarkanku sesuatu sebelum akhirnya kututup. Aku tidak lagi bertanya mengapa jalanku tidak serupa dengan jalan orang lain.  Mungkin ...

KANVAS PUTIH Vs TINTA HITAM

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Hidup kadang menyerupai  selembar kanvas putih,  yang terbentang diam di hadapan waktu sunyi, kosong,  namun justru di situlah segala kemungkinan lahir perlahan. Sedangkan hari-hari,  datang seperti tinta hitam yang jatuh setetes demi setetes  ke atas permukaan hidup;  membentuk garis, bayangan, juga luka yang tak selalu bisa dijelaskan. Aku pernah ingin melukis segalanya dengan sempurna,  membuat setiap sudut terlihat indah tanpa noda dan tanpa salah. Namun ternyata hidup  tidak pernah benar-benar diciptakan  untuk menjadi lukisan yang rapi. Ada tangan yang gemetar saat menggambar mimpi,  ada warna yang tiba-tiba memudar meski sudah dijaga sepenuh hati, dan ada hujan panjang  yang membuat tinta melebar ke mana-mana  hingga bentuknya sulit dikenali lagi. Kadang aku duduk terlalu lama  di depan kanvas hidupku sendiri, bingung ha...

ZIARAH dan RAHASIA PENANTIAN

Gambar
         Oleh: Ona Kobo Ada rahasia yang jatuh dari langit, tanpa suara, tanpa minta pamit. Ia tidak pernah bertanya pada tanah yang gersang, Apakah yang tumbuh di sana adalah mawar atau ilalang. ​Namun sebelum jatuh, ia adalah penanti yang tabah, Lama ia mengacu di langit, memeluk mendung yang lelah. Ia belajar bahwa menjadi tulus butuh waktu untuk mengumpul, Menunggu saat di mana rindu dan takdir akhirnya menyimpul. ​Ia tidak memilih jemari siapa yang ia basahi, Entah tangan yang penuh syukur, atau yang patah hati. Sebab baginya, jatuh adalah sebuah janji, memberi hidup tanpa perlu menghakimi. ​Maka di antara lelahmu melangkah, Saat ziarah hidup terasa berat dan payah, Belajarlah pada awan tentang cara menunggu Bahwa tak ada pemberian yang sia-sia jika tiba di saat yang tentu. ​Jangan simpan kasihmu hanya untuk yang suci, jangan tutup pintumu bagi yang pernah membenci. Jadilah hujan dalam pengembaraanmu yang singkat, yang tabah menanti, lalu memelu...