PENANTIAN DI UJUNG DOA


            Oleh: Ona Kobo


Di dalam sunyi yang panjang, 

aku menaruh namaku sendiri pada lembar yang belum selesai dituliskan waktu.

Ada aksara yang belum sempat menjadi kalimat,
ada cita yang masih berdiam
di balik pintu takdir,
dan ada harap yang kupelihara
seperti nyala kecil
di telapak tangan yang gemetar.

Aku telah lama bersahabat dengan penantian.

Ia datang tanpa mengetuk,
duduk di sampingku,
lalu mengajariku bagaimana
menyimpan luka tanpa membencinya,
menyimpan rindu tanpa menyebut namanya,
dan menyimpan harapan
tanpa memaksa hari esok lekas tiba.

Kadang aku merasa
hidup hanyalah sebuah kitab tua
yang halamannya harus kubuka
satu demi satu.

Ada halaman yang membuatku tersenyum,
ada halaman yang basah oleh air mata,
dan ada halaman yang ingin kulewati
namun selalu mengajarkanku
sesuatu sebelum akhirnya kututup.

Aku tidak lagi bertanya
mengapa jalanku tidak serupa
dengan jalan orang lain. 
Mungkin Tuhan menulis kisahku dengan tinta yang berbeda.

Sebab ada perjalanan
yang memang harus sunyi
agar seseorang dapat mendengar
suara hatinya sendiri.

Ada luka
yang sengaja disembunyikan waktu
agar kelak berubah menjadi kebijaksanaan.

Dan ada kehilangan
yang pada mulanya kukira kutukan,
ternyata diam-diam
adalah jalan menuju kedewasaan.

Di dalam dadaku
masih kusimpan beberapa nama
yang menjadi alasan untuk bertahan.

Ada wajah-wajah yang kucintai
yang ingin kulihat tersenyum
tanpa lagi menghitung harga sebuah perjuangan.

Untuk mereka,
aku rela menjadi seseorang
yang terus menyalakan pelita
meski malam belum berjanji
akan segera berakhir.

Dan untuk diriku sendiri,
aku menyimpan satu janji:

suatu hari nanti
aku akan membawa pulang
segala lelah ini
sebagai sesuatu yang patut disyukuri.

Bukan mahkota yang kuharapkan,
bukan pula tepuk tangan dunia.

Cukuplah sebuah kehidupan
yang membuatku dapat berkata:

“Aku pernah hampir menyerah,
namun Tuhan rupanya
belum selesai menuliskan kisahku.”

Tentang cinta,
aku pun tidak lagi banyak bertanya.

Jika kelak ia datang,
biarlah ia menemukan aku
bukan sebagai hati yang meminta diselamatkan,
melainkan sebagai seseorang
yang telah belajar
menjadi rumah bagi dirinya sendiri.

Jika ia tidak datang,
aku pun akan tetap menyalakan pelita.

Sebab hidup bukan hanya
tentang siapa yang tinggal,
tetapi tentang apa yang mampu kita tinggalkan
setelah kita pergi.

Maka kini aku menanti
dengan cara yang lebih sunyi.

Tidak lagi menghitung hari.
Tidak lagi memaksa pintu.
Tidak lagi menggugat langit
dengan pertanyaan yang sama.

Kuserahkan segala yang belum kumengerti
kepada tangan Tuhan.

Biarlah Dia yang menentukan
kapan sebuah doa harus menjadi nyata,
kapan sebuah luka boleh sembuh,
kapan sebuah perjalanan menemukan muara,
dan kapan aku boleh berhenti sejenak
untuk berkata:

“Kiranya cukup sudah.”

Sebab aku mulai mengerti,
penantian bukanlah ruang kosong
antara harapan dan kenyataan.

Penantian adalah bengkel sunyi
tempat Tuhan menempa jiwa.

Di sanalah kesabaran diasah,
keteguhan ditempa,
dan hati belajar membedakan
mana yang sekadar ingin dimiliki
dan mana yang sungguh-sungguh
dititipkan untuk dijalani.

Maka jika hari ini
aku masih berdiri di sini,
jangan katakan aku terlambat.

Aku hanya sedang menunggu
dengan cara Tuhan.

Dan jika kelak
pintu itu akhirnya terbuka,
aku tidak ingin berlari menyambutnya.

Aku ingin datang perlahan,
membawa seluruh bekas perjalanan,
lalu menundukkan kepala
dengan hati yang penuh syukur.

Sebab barangkali
yang selama ini kutunggu
bukanlah sebuah kehidupan
yang tanpa luka,

melainkan keberanian
untuk tetap mencintai kehidupan
meski aku tahu
ia tidak pernah menjanjikan
jalan yang mudah.

Dan di ujung segala doa,
ketika seluruh kata
telah kehilangan suara,
aku hanya ingin tinggal
dengan satu keyakinan:

bahwa tidak ada doa yang benar-benar sia-sia;
sebagian menjadi jawaban,
sebagian menjadi jalan,
dan sebagian lainnya
menjadi kekuatan
agar aku sanggup menerima
apa pun yang akhirnya
dituliskan Tuhan untukku.

Maka biarlah aku menanti. 

Diam-diam, dengan hati yang pernah retak, namun belum kehilangan cahaya.

Dengan langkah yang pernah goyah,
namun masih mengenal arah. 
Dan dengan doa yang tak pernah benar-benar selesai.

Sebab mungkin, di ujung doa itu
bukan hanya takdir yang sedang menungguku
melainkan aku sendiri, yang kelak akan berjumpa dengan kehidupan yang selama ini
diam-diam kuperjuangkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DI UJUNG DESEMBER: CINTA MENYEBUT NAMA TUHAN

DI HADAPAN DINDING WAKTU

PENGAGUM RAHASIA