Postingan

BERSEMI, MERECUPLAH NOVEMBER

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Telah datang November, lembut seperti  doa di ujung senja, Menggugurkan sisa rindu dari Oktober yang penuh perjuangan. Embun jatuh perlahan di kening pagi, Seakan menulis ulang harapan yang sempat tertunda. Merecuplah November seperti bunga yang malu-malu tumbuh, Dari tanah yang pernah retak, Dari hati yang pernah lelah namun tak menyerah. Ada cahaya kecil di balik setiap luka, Dan kini ia tumbuh menjadi alasan untuk tersenyum lagi. Angin membawa kabar tentang permulaan baru, Tentang keberanian untuk mencinta, berdoa, dan percaya. Segalanya tampak sederhana  Namun penuh makna seperti tatapan pertama pada pagi yang damai. Oh November, Jadilah halaman baru yang wangi, Tempat segala niat baik tumbuh dan bersemi, Tempat kita belajar lagi  Bahwa setiap akhir selalu menyimpan janji akan keindahan yang baru. 

OKTOBER: ROSARIO DAN PERJUANGAN

Gambar
                 Oleh: Ona Kobo (Per Mariam Ad Jesum) Oktober datang perlahan, membawa wangi dupa dan bisikan doa Salam Maria, di setiap butir rosario yang kugenggam, kutitipkan harapan, luka, dan cinta yang belum sembuh. Di altar kecil di sudut kamarku, lilin menyala seperti bintang yang setia, mengiringi langkah iman yang tak selalu mudah, namun selalu kutempuh, walau tertatih oleh waktu. Bulan ini suci — bulan Bunda yang mengajar tentang kesabaran, tentang mencintai dengan hati yang berani patah, dan bangkit lagi dengan damai yang tak riuh. Oktober juga bulan perjuangan, ketika keringat bercampur air mata di ladang kehidupan, namun dalam setiap letih, ada tangan Tuhan yang menepuk lembut pundakku: "Jangan berhenti, Aku menyertaimu." Dan di akhir Oktober  ketika malam terasa lebih sunyi, aku menatap langit, melihat bulan separuh yang tampak pasrah, seperti diriku yang belajar berserah sepenuhnya. Oktober menutup dengan tena...

HUJAN DI BULAN OKTOBER

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Hujan di 10 Oktober, Mengetuk jendela dengan nada lirih, Seperti bisik rindu yang tak pernah usai, Menyapa hati yang masih menyimpan namamu. Di sudut malam, wanita itu duduk merenung, Memandangi butiran hujan yang jatuh perlahan, Seakan tiap tetesnya membawa wajahmu, Bayangan dirimu yang tak pernah pudar dari ingatan. Angin berhembus membawa kenangan, Menyelinap lembut ke dalam dada, Membangunkan rindu yang lama terdiam, Menyulut sunyi menjadi bara penantian. Oh, Oktober… Mengapa setiap hujan selalu tentang dirimu? Tentang tatapan yang dulu menenangkan, Tentang kehadiran yang kini hanya bayangan. Wanita itu terus merenung dalam gerimis malam, Menyebut namamu dalam diam, Mungkin hujan takkan membawamu pulang, Tapi rindu ini tetap akan menunggu dalam tenang.

SATU HARI DI BULAN SEPTEMBER

Gambar
Oleh: Ona Kobo Pagi itu membuka diri dengan tenang, matahari muncul perlahan di balik jendela, seolah tahu, bahwa hari ini bukan hari yang biasa. Baju kebesaran dipersiapkan, toga hitam terlipat rapi, namun di dalam hati, ada getar yang lebih suci daripada sekadar perayaan duniawi. Langkah demi langkah kuayunkan, menuju ruang yang akan menjadi saksi, senyum sahabat, doa orang tua, semua bersatu dalam nada syukur. Di panggung akademi aku berdiri, menerima gelar yang lahir dari jerih payah, dari malam-malam panjang bersama buku, dan doa-doa lirih yang menembus langit. Namun di altar Gereja, lebih dalam lagi maknanya, Magisterium Gereja menyerahkan Missio Canonica, bukan sekadar penghargaan, tetapi perutusan untuk hidup. Aku menangis pelan, bukan karena lelah, tetapi karena kasih yang tak terhitung, membawaku sampai ke titik ini. September menjadi saksi, bahwa ilmu dan iman bertemu, bahwa pengetahuan tak berhenti di kepala, melainkan mengalir ke hati, dan dari hati menuju pela...

HUJAN DI AWAL SEPTEMBER

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Hujan jatuh di awal September, membasuh sunyi di antara langkah yang gemetar. Ada seorang perempuan, matanya penuh cahaya, keinginannya hampir ia rengkuh di ujung doa. Namun rindu tak henti menyalakan api, bayangan dia hadir di tiap detik yang sunyi. Dalam keheningan malam yang membisu, namanya kusematkan di sela doa yang pilu. Dingin mencengangkan, menusuk perlahan, tapi hatiku hangat oleh harapan. Sebab aku tahu, di balik hujan yang deras, ada perjumpaan yang kelak menjadi nyata dan tulus. Aku berjalan di lorong waktu yang panjang, membawa sabar sebagai pelita yang terang. Setiap tetes hujan menuliskan namanya, di jendela hati yang tak pernah tertutup oleh lupa. Rindu menjelma menjadi bait-bait diam, mengalun lembut dalam senandung malam. Kepada Tuhan kuserahkan segalanya, cinta yang tak terucap, doa yang setia. Andai ia tahu, betapa aku mengaguminya, tak dengan kata, tak dengan suara. Hanya pandangan y...

SENJA DI UJUNG KAMPUNG BESKEM

Gambar
                 Oleh: Ona Kobo Tidak  banyak yang tahu, bahwa senja bisa seindah itu bukan di pantai, bukan di kafe berteras tinggi, dan bukan pula di titik-titik wisata yang ramai dicari di pencarian Google. Tapi di sebuah kampung kecil yang bernama Beskem (Nansean). Sebuah kampung yang seperti nyaris dilupakan peta, namun diam-diam menyimpan lukisan alam yang hanya bisa dinikmati oleh mereka yang punya mata hati. Kampung Beskem(Nansean) bukanlah tempat yang penuh atraksi. Ia hanya dihuni oleh rumah-rumah sederhana dengan atap seng berkarat, jalan tanah yang merekah kalau hujan, dan pohon-pohon tua yang berdiri setia sejak entah kapan. Tapi setiap sore, saat matahari mulai pulang, kampung ini berubah menjadi panggung agung bagi pertunjukan semesta. Langit mulai mewarnai dirinya dengan orange keemasan. Cahaya matahari jatuh pelan-pelan di genteng rumah, di wajah anak-anak yang masih bermain bola plastik, dan di embun sisa si...

SUATU HARI DI BULAN JUNI

Gambar
            Oleh: Ona Kobo Suatu hari di bulan Juni, Gerimis kecil bersama angin datang membawa dingin yang pelan, Di sudut ruang yang sepi ada seorang wanita, menunduk di hadapan layar menyusun kalimat demi kalimat dengan mata yang lelah, Tapi hati yang tetap setia menyala. Ia sedang berjuang, Dengan tugas yang tak mau menunggu, dengan waktu yang terasa sempit, Dengan kepala penuh, dan perasaan yang tak bisa diucapkan. Di tengah tumpukan kata dan deadline, Ada satu nama yang terus muncul tanpa diundang Iya sebatas bayang yang terbayang Bukan karena rupa, bukan karena suara, Tapi karena caranya yang begitu manusiawi Tulisannya tak berteriak, tak memaksa didengar, Namun hangat dan jujur, seperti tangan yang tak menyentuh tapi terasa. Ia membaca diam-diam, sambil menyelesaikan tanggung jawabnya. Disana di ruang yang sunyi  Perjuangan dan kekaguman berjalan beriringan. Suatu hari di bulan Juni, Ia tahu, tak semua rasa harus tiba di bibir, Kare...