Postingan

PENANTIAN DI UJUNG DOA

Gambar
            Oleh: Ona Kobo Di dalam sunyi yang panjang,  aku menaruh namaku sendiri  pada lembar yang belum selesai dituliskan waktu. Ada aksara yang belum sempat menjadi kalimat, ada cita yang masih berdiam di balik pintu takdir, dan ada harap yang kupelihara seperti nyala kecil di telapak tangan yang gemetar. Aku telah lama bersahabat dengan penantian. Ia datang tanpa mengetuk, duduk di sampingku, lalu mengajariku bagaimana menyimpan luka tanpa membencinya, menyimpan rindu tanpa menyebut namanya, dan menyimpan harapan tanpa memaksa hari esok lekas tiba. Kadang aku merasa hidup hanyalah sebuah kitab tua yang halamannya harus kubuka satu demi satu. Ada halaman yang membuatku tersenyum, ada halaman yang basah oleh air mata, dan ada halaman yang ingin kulewati namun selalu mengajarkanku sesuatu sebelum akhirnya kututup. Aku tidak lagi bertanya mengapa jalanku tidak serupa dengan jalan orang lain.  Mungkin ...

KANVAS PUTIH Vs TINTA HITAM

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Hidup kadang menyerupai  selembar kanvas putih,  yang terbentang diam di hadapan waktu sunyi, kosong,  namun justru di situlah segala kemungkinan lahir perlahan. Sedangkan hari-hari,  datang seperti tinta hitam yang jatuh setetes demi setetes  ke atas permukaan hidup;  membentuk garis, bayangan, juga luka yang tak selalu bisa dijelaskan. Aku pernah ingin melukis segalanya dengan sempurna,  membuat setiap sudut terlihat indah tanpa noda dan tanpa salah. Namun ternyata hidup  tidak pernah benar-benar diciptakan  untuk menjadi lukisan yang rapi. Ada tangan yang gemetar saat menggambar mimpi,  ada warna yang tiba-tiba memudar meski sudah dijaga sepenuh hati, dan ada hujan panjang  yang membuat tinta melebar ke mana-mana  hingga bentuknya sulit dikenali lagi. Kadang aku duduk terlalu lama  di depan kanvas hidupku sendiri, bingung ha...

ZIARAH dan RAHASIA PENANTIAN

Gambar
         Oleh: Ona Kobo Ada rahasia yang jatuh dari langit, tanpa suara, tanpa minta pamit. Ia tidak pernah bertanya pada tanah yang gersang, Apakah yang tumbuh di sana adalah mawar atau ilalang. ​Namun sebelum jatuh, ia adalah penanti yang tabah, Lama ia mengacu di langit, memeluk mendung yang lelah. Ia belajar bahwa menjadi tulus butuh waktu untuk mengumpul, Menunggu saat di mana rindu dan takdir akhirnya menyimpul. ​Ia tidak memilih jemari siapa yang ia basahi, Entah tangan yang penuh syukur, atau yang patah hati. Sebab baginya, jatuh adalah sebuah janji, memberi hidup tanpa perlu menghakimi. ​Maka di antara lelahmu melangkah, Saat ziarah hidup terasa berat dan payah, Belajarlah pada awan tentang cara menunggu Bahwa tak ada pemberian yang sia-sia jika tiba di saat yang tentu. ​Jangan simpan kasihmu hanya untuk yang suci, jangan tutup pintumu bagi yang pernah membenci. Jadilah hujan dalam pengembaraanmu yang singkat, yang tabah menanti, lalu memelu...

DI BALIK BATU YANG DIAM

Gambar
Oleh: Ona Kobo Orang-orang mengenalnya sebagai tebing yang tidak lekang oleh musim, sebab ia berdiri tanpa banyak mengeluh, seakan angin tidak pernah menemukan celah untuk menggugurkan keteguhannya. Padahal, di balik batu yang tampak kokoh, ada mata air yang diam-diam mencari jalan pulang. Ada getir yang di pendam agar dunia tidak belajar membaca betapa ringkihnya sebuah keberanian. Ia melangkah bukan karena tidak mengenal takut, melainkan karena tidak ingin ketakutannya menjadi beban bagi pundak-pundak yang telah letih. Namun ketika senja menutup halaman langit, ia sering bertanya kepada sunyi, "Masihkah esok menyimpan tempat bagi langkah yang mulai kehilangan yakin?" Ia kuat,  setidaknya begitulah dunia menamainya. Tetapi di ruang yang tidak dijangkau sorak, ia masih meragukan dirinya sendiri, Seperti pelita yang tetap menyala sambil cemas apakah fajar akan benar-benar datang menjemput. Kadangkala, kekuatan bukanlah tiadanya keretakan, melainkan kesan...

AMBANG AKHIR JUNI

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Pada akhirnya, Juni hanyalah sebuah halaman yang selesai dibaca waktu,  Sementara kehidupan tetap menjadi kitab yang tak pernah mencapai titik terakhir. Bulan ini tidak pergi.  Ia hanya mengganti wujudnya: dari kalender menjadi kenangan,  Dari angka menjadi makna,  Dari peristiwa menjadi diam yang menetap di kedalaman jiwa. Bukankah setiap musim adalah cara semesta mengajarkan bahwa menggenggam terlalu lama hanya akan membuat bunga kehilangan harum sebelum waktunya? Lihatlah senja. Ia tidak pernah meratap ketika cahaya meninggalkan langit. Ia tahu, gelap bukan lawan terang, melainkan ruang tempat bintang belajar menyebut dirinya sendiri. Demikian pula Juni. Ia menanggalkan hari-harinya seperti pohon tua yang melepaskan daun-daunnya bukan karena kematian, melainkan karena kehidupan selalu membutuhkan keberanian untuk kehilangan. Waktu tidak pernah tergesa. Kitalah yang sering ber...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

DI HADAPAN DINDING WAKTU

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Pada dinding waktu yang tidak pernah retak oleh musim, aku menggantungkan namamu bagai pelita tua di serambi senja, tetap bernyala meski angin tidak lagi mengenal arah pulang. Doaku mengalir seperti sungai yang enggan mengabarkan ke mana ia bermuara, ia hanya setia menggendong langit dan membawa namamu ke hadapan Yang Mahatahu. Jika malam adalah kitab sunyi, maka setiap amin ialah huruf-huruf yang kutulis dengan tinta kesabaran, agar semesta mengerti bahwa ada harap yang tidak pernah meminta tepuk tangan. Dinding waktu hanyalah batu bisu, namun ia hafal setiap desir yang lahir dari dada, setiap jeda yang mengandung namamu, dan setiap musim yang kulewati tanpa meninggalkan doa. Di beranda fajar yang masih berbalut kabut, kuserahkan kembali namamu kepada cahaya yang tidak pernah ingkar pada terbitnya. Sebab doa bukan sekadar penantian, melainkan akar yang diam-diam menegakkan pohon harapan meski tak pernah dipuji ...

GORESAN PENA 26-06-2026

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo Ada tanggal-tanggal yang lahir hanya untuk menjadi angka, lalu dilupakan bersama debu kalender. Namun ada pula yang datang seperti embun yang memilih daun paling sunyi, membawa rahasia yang tak sanggup diterjemahkan oleh waktu. 26-06-2026, barisan angka yang tersusun laksana jemari hujan yang mengetuk jendela musim, seolah langit sedang belajar menulis puisi dengan tinta berwarna senja. Tanggal ini bukan sekadar hitungan. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah hari tanpa perlu bersolek oleh kemewahan. Cantiknya bukan karena simetri angka, melainkan karena ia mengajarkan bahwa keindahan sering lahir dari hal-hal yang tampak sederhana. Aku membayangkannya sebagai sehelai daun yang tak pernah meminta angin, namun tetap menari ketika semesta mengembuskan harapan. Sebagai sungai yang tak pernah memamerkan muaranya, tetapi setia mengantar setiap riak menuju lautan yang lapang. Di balik angka dua ...

SUATU HARI DI BULAN JUNI

Gambar
               Oleh: Ona Kobo Suatu hari di bulan Juni, langit datang seperti selembar surat tua yang terselip di antara halaman-halaman waktu. Angin membacanya perlahan, sementara dedaunan menjadi aksara yang menari di atas tanah yang diam. Pada hari itu, matahari tidak sekadar terbit dari timur, ia seperti pelita emas yang digantungkan Tuhan di beranda pagi, mengajarkan cahaya untuk tetap setia meski malam berkali-kali datang menghapus jejaknya. Aku melihat kehidupan seperti kanvas putih yang terbentang panjang, dan setiap peristiwa adalah tinta hitam yang tidak selalu indah saat ditorehkan, namun kelak membentuk gambar yang tak pernah mampu ditebak oleh pemiliknya. Suatu hari di bulan Juni, hujan turun seperti kenangan yang lama berdiam di sudut hati. Ia tidak mengetuk pintu, tetapi hadir diam-diam membasahi taman-taman yang hampir lupa cara berbunga. Waktu berjalan seperti sungai tua, membawa ranting-ranting harapan, daun-daun kega...

OASE DI UJUNG MANIK ROSARIO

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Di antara sunyi dan kepulan asap lilin yang menari, Engkau hadir sebagai hening yang paling murni. Bukan sekadar nama dalam deretan manik-manik rosario, Tapi pelukan yang utuh saat dunia terasa riuh. ​Wahai Sang Mawar Gaib yang tidak pernah layu, Engkau adalah "Ya" yang mengubah sejarah waktu. Dalam rahimmu, Langit dan Bumi saling beradu, Melahirkan Terang di tengah malam yang membiru. ​Bunda bagi mereka yang kehilangan arah pulang, Engkau simpan segala duka dalam palung hati yang tenang. Tak perlu banyak kata untuk menyatakan cinta, Sebab jubah birumu cukup luas untuk mendekap semua air mata. ​Engkau adalah perempuan bersahaja dari Nazareth, Yang langkah kakinya setia meski jalanan terasa pedih. Dari palungan yang hina hingga puncak Golgota yang letih, Kesetiaanmu adalah api yang tak pernah habis tersisih. ​Di bawah kaki salib, Engkau berdiri dengan teguh, Mengajarkan kami cara mencintai tanpa perlu mengeluh. S...

Di Antara Langit yang Belum Selesai

Gambar
                Oleh: Ona Kobo Masa depan itu seperti jalan berkabut, aku melangkah bukan karena tahu arah, tetapi karena percaya bahwa setiap lelah punya rumahnya sendiri. Kadang langkah ini goyah, seperti ranting yang digoyang angin ragu, namun aku tetap berdiri sebab di dalam jatuh pun aku belajar arti bangkit yang sesungguhnya. Hari-hari berjatuhan seperti daun, tak selalu hijau, tak selalu utuh, namun tetap kupungut satu per satu sebagai tanda bahwa aku pernah berjuang, bahwa aku tidak menyerah pada waktu yang sering kali terasa terlalu kejam. Ada malam-malam yang panjang, di mana pikiran menjadi lautan tanpa tepi, dan aku hanyut di dalamnya, mencari daratan yang bernama harapan. Namun di antara semua itu, aku menemukan diriku sendiri yang perlahan tumbuh dari luka, yang diam-diam menjadi kuat tanpa perlu tepuk tangan dunia. Dan tentangmu, kau seperti bintang yang tak pernah kumiliki, hadirmu jauh, namun cahayamu dekat, menemani g...

GOLGOTA: SUNYI YANG MENANGIS

Gambar
                  Oleh: Ona Kobo Langit merunduk pada siang yang kehilangan cahaya, awan-awan menghitam seperti duka yang tak sempat diucapkan. Angin berhenti di antara napas yang tertahan, dan bumi diam… terlalu diam untuk sebuah kematian. Di puncak sepi itu, Engkau terpaku pada kayu yang tak bernyawa, namun justru di sanalah cinta menemukan suaranya yang paling dalam. Darah-Mu menetes perlahan, seperti doa yang jatuh tanpa suara, membasuh tanah yang dulu Kau panggil “baik”, kini basah oleh luka Sang Pencipta. Teriakan, cemooh, dan tawa bercampur menjadi satu di kaki salib, namun Engkau tidak menjawab dengan murka, hanya dengan mata yang tetap memeluk dunia. “Bapa… ampunilah mereka…” kata-kata itu retak di antara napas terakhir, namun justru di situlah langit belajar tentang arti kasih yang tak bersyarat. Aku berdiri di kejauhan tak sanggup menatap terlalu lama, karena setiap luka-Mu seperti memanggil namaku d...

Simponi yang Retak di Dalam Diri

Gambar
              Oleh: Ona Kobo Di kepalaku, malam tidak pernah benar-benar tiba ia hanya redup, lalu berubah menjadi gema yang berulang-ulang memanggil namaku dengan suara yang bukan milikku. Pikiran-pikiran itu datang seperti ombak yang lupa cara kembali, menghantam tanpa jeda, meninggalkan serpihan rasa yang tak sempat kusebut sebagai luka. Aku mencoba merapikan mereka menyusunnya seperti doa yang ingin ku pinta namun huruf-hurufnya berjatuhan sebelum sempat kupahami maknanya. Ada gaduh yang berwajah tenang, ada sunyi yang terasa berisik, dan aku terjebak di antaranya— seperti langit yang tak mampu memilih antara hujan atau petir. Sering kali aku ingin diam, tapi pikiranku justru bersuara lebih keras, mengulang hal-hal yang tak ingin kuingat, menciptakan takut dari bayangan yang bahkan belum sempat menjadi nyata. Aku lelah bukan karena dunia terlalu berat, tetapi karena diriku sendiri terlalu penuh untuk kutenangk...

PENGAGUM RAHASIA

Gambar
           Oleh: Ona Kobo Malam telah membentangkan sayap kelamnya Semilir angin, mencengkram tubuh Hari ini begitu cepat hingga malam pun menghampiri Padahal, aku masih mengagumi senja Ku berdiam bersama alam hayalan Bersandar pada tiang lamunan Menikmati keterasingan ini Harap, Sukma bukan sebatas hayalan belakang Sekejap, ku pejamkan netra teduh  Terbayang wajah yang sempat ku dambakan Walau sekedar pengagum rahasia hati Kini, ambisi hanyalah ambisi Dalam relung hatiku rindu kian merindu Senandung sendu ku lantunkan dalam hayalan Sebait puisi ku bacakan dalam angan Untuk sang pengagum rahasia asmara Dalam rintihan kerinduan, terbaring sebuah kesunyian berselimutkan resah Hatiku meronta, seakan hanya sebatas angan Jiwa seolah hampa, tanpa siluet senyum sang pengagum.

DALAM KEHENINGAN

Gambar
                              Oleh: Ona Kobo Cinta ini tidak bersuara, ia berlutut dalam sunyi, bertumbuh dari hati yang rela memberi tanpa menagih kembali. Ia lahir dari ketulusan yang menyerahkan diri pada kehendak Ilahi, mencintai bukan untuk memiliki, melainkan untuk menjaga seperti Tuhan menjaga kehidupan. Cinta yang hidup adalah doa yang tak terucap, setia dalam luka, tabah dalam penantian, dan tetap percaya bahwa kasih tidak pernah sia-sia. Ia membentuk jiwa tanpa memaksa, menumbuhkan tanpa melukai, menguatkan tanpa mengikat. Dan dalam cinta yang demikian, aku belajar,  ketulusan adalah ibadah, kesetiaan adalah iman, dan mencintai tanpa pamrih adalah cara paling manusiawi untuk menyerupai Tuhan. ✨

RAYUAN DALAM DOA BISU

Gambar
          Oleh: Ona Kobo Ada satu nama, yang tidak pernah kusebut keras-keras kepada dunia Ia hanya berlayar pelan di antara doa-doa yang kuangkat diam-diam ke langit yang sabar mendengar. Aku tidak menaruhnya di bibir, tetapi di sela-sela hening saat hati menjadi lebih jujur daripada segala kata. Seringkali ia tidak pernah tahu, bahwa setiap kali malam menutup hari ada satu harapan kecil yang kubiarkan naik seperti asap dupa tipis, tenang, namun penuh makna. Aku mengagumi seperti bumi memandang langit: tanpa gaduh, tanpa menuntut untuk disentuh, hanya setia berada di bawah luasnya biru yang sama. Sebab ada rasa yang tidak perlu menjadi cerita. Ia cukup tinggal seperti bintang yang jauh tidak selalu dapat diraih, tetapi cukup untuk menerangi arah pulang. Dan jika suatu saat Tuhan membaca semua doa yang tak terucap itu, biarlah Ia sendiri yang mengerti mengapa di antara begitu banyak kata selalu ada satu nama yang kusemb...

PANDANGAN GENERASI Z : MENJADI GURU BUKAN HANYA MENGAJAR TETAPI MENJADI TELADAN

Gambar
                    Oleh: Ona Kobo   Menjadi guru, bagi saya, bukan sekadar berdiri di depan kelas lalu menjelaskan materi sampai bel berbunyi. Guru bukan hanya penyampai ilmu, tetapi penanam nilai. Bukan hanya pengajar teori, tetapi penjaga adab, disiplin, moral, dan karakter. Di zaman sekarang, ketika informasi bisa didapatkan hanya dengan satu sentuhan layar, peran guru justru semakin dalam. Ilmu bisa dicari di internet, video pembelajaran bisa ditonton kapan saja. Tetapi adab tidak bisa diunduh. Disiplin tidak bisa diinstal. Karakter tidak bisa dicopy-paste.      Semua itu lahir dari keteladanan. Sebagai bagian dari generasi Z, generasi yang tumbuh bersama teknologi dan perubahan yang cepat,menjadi guru adalah panggilan yang unik. Kami adalah generasi yang kreatif, ekspresif, dan akrab dengan dunia digital. Namun justru di situlah tantangannya: apakah kami mampu menjadi contoh di tengah dunia yan...

SEJARAH SUKU AMASANAN

Oleh: Ona Kobo Di sebuah wilayah yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di tanah yang dipeluk angin dan dijaga bukit-bukit sunyi, hiduplah sebuah suku tua bernama Amasanan. Suku ini berdiam di Desa Nansean, Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara, tanah yang bukan hanya menyimpan jejak kaki manusia, tetapi juga jejak kisah para leluhur. Konon, pada zaman ketika matahari terasa lebih dekat dengan bumi dan manusia masih akrab dengan alam, datanglah seorang pemuda gagah perkasa dari Niku Sae Loro Sae (tanah terbitnya matahari). Namanya Bagista. Tubuhnya tegap, langkahnya mantap, dan sorot matanya menyimpan keberanian sekaligus kebijaksanaan. Bagista berjalan menyusuri banyak daerah hingga akhirnya tiba di Ainan. Kedatangannya disambut dengan hangat oleh suku Banusu. Dari kejauhan, sosok Bagista tampak seperti Koko On Bate atau seorang raja yang turun dari langit pagi. Wibawanya memancar tanpa perlu banyak kata. Dalam pertemuan adat yang penuh penghormatan, para tetua berembuk. Mereka se...

VENANSIA TOIJAAS

ANASTASIA MAYANG MOTA

Gambar
                                      Oleh: Ona Kobo A ku lahir dari bulan Juli yang memeluk bumi dengan hujan dan rindu. Di dadaku mengalir air bukan sekadar unsur, tetapi cara aku mencintai: diam, dalam, dan setia. N amaku bukan hanya rangkaian huruf, ia adalah doa yang dititipkan langit. Dalam sunyi aku sering berbicara pada laut, sebab hanya ombak yang mengerti betapa perasaan bisa pasang tanpa pernah meminta izin. A da merah dalam diriku warna kesukaanku, warna keberanian. Merah yang tidak selalu berteriak, namun menyala pelan di balik kelembutan seorang Cancer. S eperti ombak yang tak pernah berhenti, aku belajar menerima diri. Luka mengajarkanku bertumbuh, air mataku mengajarkanku kuat, dan nyanyianku mengajarkanku sembuh. T anggal sembilan bulan tujuh dua ribu tiga, aku datang membawa hati yang sensitif. Katanya aku terlalu perasa, tapi bukankah dunia butuh lebih banyak hat...